Iran Sebut Tak Terkejut Hadapi Trump, Ternyata Ini Alasannya
- Istimewa
Ia juga menyebut serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan telah mengubah peta keamanan regional.
Menurutnya, operasi tersebut memperlihatkan kemampuan Republik Islam melancarkan serangan di berbagai wilayah tanpa memicu respons militer yang efektif dari pihak lawan.
"Iran telah mengantisipasi kemungkinan perang jauh-jauh hari dan telah menyusun rencana kontingensi terperinci untuk berbagai skenario, termasuk serangan gabungan AS-Israel dan bahkan upaya pembunuhan terhadap Pemimpin Revolusi Islam," katanya dikutip dari kantor berita Tasnim News pada Senin, 20 Juli 2026.
Araghchi menegaskan negaranya tidak terkejut dengan pecahnya konflik karena seluruh langkah antisipasi telah dipersiapkan sebelumnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Teheran tetap menjalankan proses perundingan dengan Amerika Serikat meskipun memperkirakan konflik bersenjata dapat terjadi.
Menurutnya, jalur diplomasi ditempuh untuk memastikan seluruh peluang penyelesaian damai telah diupayakan sekaligus menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Iran tidak menutup pintu dialog.
Araghchi menambahkan Washington berulang kali menuntut penghentian total pengayaan uranium, namun akhirnya memilih jalur militer setelah gagal memaksa Iran menghentikan program nuklir melalui negosiasi.
Ia membantah anggapan bahwa diplomasi menjadi penyebab pecahnya perang.
Sebaliknya, menurut Araghchi, konflik terjadi karena Amerika Serikat dan Israel menganggap Iran telah kehilangan kemampuan pencegahan strategisnya.
Ia menilai anggapan tersebut menjadi kesalahan perhitungan yang fatal karena Iran mampu memberikan perlawanan sengit hingga memaksa pihak lawan menghentikan kampanye militernya.
"Pengalaman dari perang 12 hari sebelumnya memungkinkan Iran memperkuat kemampuan militer dan meningkatkan kesiapan operasional, yang pada akhirnya membuka jalan bagi kemenangan dalam konflik 40 hari berikutnya."
Araghchi juga menyebut kemampuan peluncuran rudal Iran mengalami peningkatan signifikan selama masa jeda konflik sehingga menggagalkan berbagai perkiraan lawan.
Ia menambahkan Angkatan Bersenjata Iran tetap berada dalam status siaga penuh selama proses perundingan berlangsung dan tidak pernah diminta mengandalkan diplomasi semata dalam menjaga pertahanan nasional.
Menurutnya, berbagai langkah darurat, termasuk opsi penutupan Selat Hormuz pada skenario perang tertentu, telah dipersiapkan sejak awal melalui rencana kontingensi yang matang.
Araghchi mengatakan keputusan mengenai proses perundingan diambil secara kolektif melalui komite khusus di bawah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang secara bersamaan juga memerintahkan seluruh unsur negara bersiap menghadapi kemungkinan perang.