Iran Sebut Tak Terkejut Hadapi Trump, Ternyata Ini Alasannya
- Istimewa
Meski belum terlibat langsung dalam eskalasi terbaru antara Washington dan Teheran, Israel menegaskan siap memberikan respons apabila menjadi target serangan.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan negaranya akan membalas dengan kekuatan penuh apabila Iran meluncurkan rudal ke wilayah Israel.
Menurut Katz, militer Israel telah menyiapkan berbagai langkah pertahanan maupun serangan apabila situasi berubah sewaktu-waktu.
Pernyataan senada disampaikan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir.
Ia mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi di Iran.
Zamir menjelaskan sistem pertahanan udara Israel tetap berada dalam tingkat kesiagaan tinggi setelah peluncuran rudal ke arah kawasan tersebut.
Ia juga menegaskan militer Israel siap kembali bertempur kapan saja apabila keamanan negaranya terancam.
Di tengah meningkatnya eskalasi, organisasi energi atom Iran turut mengeluarkan pernyataan resmi.
Lembaga tersebut mengecam serangan Amerika Serikat terhadap proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Darkhovin di Provinsi Khuzestan.
Mengutip laporan Mehr News Agency, Teheran menilai serangan itu merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.
Namun, lembaga tersebut tidak merinci waktu pasti terjadinya serangan terhadap fasilitas tersebut.
Di tengah memanasnya situasi militer, muncul pula laporan mengenai keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Media Saudi Al-Hadad mengutip sumber keamanan Israel yang menyebut Mojtaba Khamenei tidak berada di Teheran.
Sejak diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi menggantikan ayahnya pada akhir Februari 2026, Mojtaba diketahui belum pernah tampil di hadapan publik.
Sumber tersebut juga mengklaim berbagai pernyataan yang beredar selama ini diduga disusun oleh Kepala IRGC yang baru, Ahmad Vahidi, bersama sejumlah pejabat Garda Revolusi lainnya.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Pemerintah Iran mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei maupun kebenaran laporan tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan masih terdapat dugaan kebocoran intelijen yang memungkinkan Israel mengetahui lokasi pertemuan penting para pemimpin Iran sebelum serangan mematikan pada 28 Februari 2026.
Dalam perkembangan lain, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi kemungkinan perang dengan Amerika Serikat maupun Israel sejak jauh hari.