Iran Ultimatum AS dan Israel, Donald Trump dan Netanyahu Bakal Bernasib Sama Seperti Kolonial Masa Lalu?
- Istimewa
Siap –Republik Islam Iran kembali mengirimkan sinyal perlawanan yang kuat di tengah meningkatnya tensi militer dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pemerintah Iran menegaskan keyakinannya bahwa rakyat akan tetap bersatu dan mampu melintasi tekanan geopolitik yang ada saat ini, sebagaimana sejarah panjang bangsa tersebut dalam menghadapi berbagai invasi asing.
Dalam pidato resminya pada Minggu (19/7/2026) di Provinsi Bushehr, Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengingatkan kembali jejak sejarah perlawanan rakyatnya.
Berpidato di lapangan martir Rais Ali Delvari simbol perjuangan menentang kolonial Inggris Mohajerani menegaskan bahwa kekuatan persatuan telah terbukti mampu mengusir penjajah Portugis, menghadapi Inggris, hingga bertahan dalam perang panjang melawan Irak di era Saddam Hussein.
"Dengan persatuan nasional dan keyakinan masyarakat, Amerika Serikat dan Israel pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama seperti para musuh Republik Islam di masa lalu. Rakyat percaya akan menyaksikan kekalahan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu," tegas Mohajerani.
Komitmen Garda Revolusi dan Pesan Kepemimpinan Baru
Semangat senada disampaikan oleh Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Esmail Qaani. Ia menegaskan bahwa seluruh pejuang Pasukan Quds tetap setia pada cita-cita mendiang Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei, dan kini melanjutkan perjuangan di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei.
Langkah ini mempertegas pesan tegas yang disampaikan Mojtaba Khamenei pada Sabtu (18/7/2026).
Dalam pesannya, ia memuji dukungan masif masyarakat saat pemakaman ayahnya serta memberi peringatan keras kepada Washington agar tidak meremehkan tekad Iran.
Jika AS memilih jalan perang, front perlawanan siap memberikan pelajaran yang tak mudah dilupakan. Pemulihan Cepat Infrastruktur Sipil di Tengah Dampak Serangan Di sisi domestik, Teheran bergerak cepat menangani dampak kerusakan akibat serangan udara AS.
Wakil Presiden untuk Urusan Eksekutif, Mohammad Jafar Ghaempanah, memimpin langsung tim penanganan krisis di Provinsi Hormozgan bersama Menteri Energi Abbas Aliabadi serta Menteri Jalan dan Pembangunan Perkotaan Farzaneh Sadegh.
Atas perintah Presiden Iran Masoud Pezeshkian, berbagai jalur transportasi utama yang sempat lumpuh berhasil dibuka kembali dalam waktu singkat.