Iran Ungkap Strategi yang Disebut Bikin AS Gagal Mencapai Target, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
- Istimewa
"Pengalaman dari perang 12 hari sebelumnya memungkinkan Iran memperkuat kemampuan militer dan meningkatkan kesiapan operasional, yang pada akhirnya membuka jalan bagi kemenangan dalam konflik 40 hari berikutnya."
Ia menambahkan, selama masa jeda konflik, kemampuan peluncuran rudal Iran terus ditingkatkan sehingga melampaui perkiraan pihak lawan.
Araqchi juga memastikan Angkatan Bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi siaga penuh sepanjang proses perundingan berlangsung.
Menurutnya, aparat militer tidak pernah diminta hanya mengandalkan jalur diplomasi dalam menjaga pertahanan negara.
Ia mengungkapkan sejumlah langkah strategis, termasuk opsi penutupan Selat Hormuz dalam kondisi tertentu, telah menjadi bagian dari rencana kontingensi yang disusun jauh sebelum perang terjadi dan siap dijalankan apabila diperlukan.
Lebih lanjut, Araqchi mengatakan seluruh keputusan terkait proses negosiasi diambil melalui komite khusus di bawah Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Pada saat bersamaan, lembaga tersebut juga menginstruksikan seluruh institusi negara untuk mempersiapkan kemungkinan perang.
Ia kembali menegaskan Iran tidak akan menerima tuntutan Amerika Serikat terkait penghentian maupun pembatasan jangka panjang program pengayaan uranium.
Menurutnya, hak nuklir negaranya merupakan bagian dari kepentingan nasional yang tidak dapat dinegosiasikan.
Araqchi menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Iran tetap mengutamakan penyelesaian melalui diplomasi demi menghindari dampak perang.
Namun, ia menekankan negaranya tidak akan mengorbankan kepentingan nasional hanya karena tekanan dari pihak luar.
Sementara itu, konflik antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran terus mengalami eskalasi dalam beberapa pekan terakhir.
Kedua negara saling melancarkan serangan terhadap target militer dan infrastruktur strategis di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Iran kembali meluncurkan serangan sebagai respons atas dugaan pelanggaran wilayah udaranya oleh militer Amerika Serikat.
Pada Sabtu, 18 Juli 2026, militer Republik Islam juga merilis rekaman yang diklaim memperlihatkan peluncuran rudal menuju sasaran musuh.
Hingga kini, aksi saling balas serangan antara Teheran dan Washington masih terus berlangsung, menandai meningkatnya ketegangan di kawasan dengan serangan yang menyasar berbagai fasilitas militer maupun infrastruktur strategis.