Senjata Tak Kasat Mata Iran Disebut Lebih Berbahaya dari Rudal
- Istimewa
Pada April 2026, IRGC merilis peta Selat Hormuz yang menampilkan sebagian besar wilayah perairan sebagai "Area Berbahaya, terbatas untuk seluruh lalu lintas."
Dalam peta tersebut hanya terdapat dua jalur pelayaran di sisi utara yang dinyatakan aman dan berada di bawah pengawasan Iran.
Meski militer Amerika Serikat telah melakukan penyisiran di sejumlah titik, hingga kini belum ditemukan bukti keberadaan ranjau laut di kawasan yang disebut berbahaya tersebut.
Namun demikian, Kepala Operasi Angkatan Laut AS, Laksamana Daryl Caudle, menilai Iran kemungkinan sengaja memanfaatkan isu ranjau untuk mengarahkan kapal-kapal komersial agar berlayar lebih dekat ke wilayah yang berada dalam pengawasan mereka.
"Hampir tidak mungkin Iran sama sekali tidak menanam ranjau di kawasan tersebut," tegas Laksamana Daryl Caudle kepada Bloomberg.
Laporan lain yang mengutip pejabat Amerika Serikat menyebutkan Iran kemungkinan juga tidak mengetahui secara pasti seluruh lokasi ranjau yang telah dipasang.
Selain itu, Teheran dinilai tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk membersihkan seluruh ranjau apabila jalur pelayaran kembali dibuka sepenuhnya.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperumit upaya normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Di sisi lain, sejak konflik meningkat, Iran dilaporkan telah menyerang atau merusak lebih dari 20 kapal komersial menggunakan kapal cepat tanpa awak, rudal, maupun proyektil lainnya.
Meski demikian, belum adanya kapal yang menjadi korban ledakan ranjau terus memunculkan berbagai spekulasi mengenai efektivitas maupun keberadaan perangkat tersebut.
Selama ranjau fisik belum ditemukan, sebagian pengamat menilai ketidakpastian itu justru telah menjadi senjata tersendiri.
Ancaman yang belum dapat dipastikan keberadaannya dinilai cukup membuat perusahaan pelayaran mengurangi aktivitas di Selat Hormuz tanpa perlu terjadi ledakan ranjau secara langsung.