Senjata Tak Kasat Mata Iran Disebut Lebih Berbahaya dari Rudal

Potret Ilustrasi bahaya melintasi Selat Hormuz.
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam di tengah memanasnya konflik militer di kawasan Teluk.

img_title Iran Tak Gentar Perang Berkepanjangan, AS Mulai Hitung Persediaan Senjata

Jalur strategis yang sebelumnya dilintasi sekitar 140 kapal setiap hari kini hanya dilewati sekitar 14 kapal per hari, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi energi global.

Penurunan aktivitas pelayaran itu dipicu oleh beredarnya informasi bahwa Iran diduga telah menempatkan ranjau laut di sepanjang Selat Hormuz.

img_title Iran Bertekad untuk Terus Melawan hingga AS-Israel Kalah Total

Meski belum ada bukti pasti, kabar tersebut membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari jalur tersebut demi alasan keselamatan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menjadi lintasan lebih dari 20 persen pasokan minyak mentah global.

img_title Di Tengah Perang Iran-AS, Kanada Dapat Sindiran Tak Terduga dari Teheran

Pada bagian tersempitnya, selat yang memisahkan Iran dan Oman itu hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer.

Di balik kekhawatiran tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai keberadaan ranjau laut yang disebut-sebut telah dipasang Iran.

Hingga kini belum ada laporan kapal perang maupun kapal dagang yang menghantam ranjau di kawasan tersebut.

Kondisi itu memunculkan spekulasi apakah ranjau tersebut benar-benar telah dipasang atau hanya menjadi bagian dari strategi psikologis untuk menekan lalu lintas pelayaran internasional.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat meyakini Iran memang telah menyebarkan ranjau laut sebagai bagian dari upaya membatasi akses ke jalur pelayaran internasional tersebut.

Dalam strategi peperangan laut, ranjau laut dikenal sebagai salah satu senjata yang relatif murah namun memiliki daya rusak tinggi.

Perangkat peledak tersebut dapat ditempatkan di dasar laut atau digantung di bawah permukaan air dan akan aktif ketika mendeteksi perubahan tekanan, medan magnet, maupun gelombang akustik dari kapal yang melintas.

Laporan intelijen memperkirakan Iran memiliki antara 2.000 hingga 6.000 ranjau laut, termasuk sejumlah varian ranjau roket dengan kemampuan yang lebih modern.

Secara historis, Angkatan Laut Amerika Serikat pernah melaksanakan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz pada periode 1987-1988 setelah konflik di kawasan tersebut.

Dalam beberapa dekade terakhir, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga terus meningkatkan kemampuan tempurnya, mulai dari armada kapal cepat, kapal tanpa awak, hingga berbagai jenis drone.

Halaman Selanjutnya
img_title