AS Salah Perhitungan, Iran Telah Menyiapkan Skenario Perang Jauh-jauh Hari
- Energy Intelligence
Siap – Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Abbas Araqchi menegaskan, bahwa negaranya telah menyiapkan skenario perang terhadap musuh seperti Amerika Serikat maupun Israel sejak jauh-jauh hari.
Ia juga mengungkapkan, serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan telah mengubah arsitektur keamanan regional.
Menurutnya, balasan tersebut menunjukkan kemampuan Republik Islam untuk melancarkan serangan di seluruh kawasan tanpa memicu respons militer yang efektif.
"Iran telah mengantisipasi kemungkinan perang jauh-jauh hari dan telah menyusun rencana kontingensi terperinci untuk berbagai skenario, termasuk serangan gabungan AS-Israel dan bahkan upaya pembunuhan terhadap Pemimpin Revolusi Islam," katanya dikutip dari kantor berita Tasnim News pada Senin, 20 Juli 2026.
Araqchi menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak terkejut dengan pecahnya permusuhan, dan telah sepenuhnya siap untuk memberikan respons.
Ia juga mengatakan, bahwa Teheran tetap melakukan perundingan dengan Amerika Serikat (AS) meskipun memperkirakan akan terjadi perang.
Araqchi menjelaskan, pembicaraan itu bertujuan untuk menjajaki semua opsi diplomatik hingga tuntas dan menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Iran telah menempuh segala jalan damai.
Ia juga menyebutkan, bahwa Washington berulang kali menuntut nol pengayaan dan pada akhirnya memilih tindakan militer setelah gagal memaksa Iran menghentikan program nuklirnya melalui perundingan.
Rudal bawah tanah Iran siap diaktifkan
- Istimewa
Araqchi menepis anggapan bahwa diplomasi memicu perang.
Sebaliknya, ia berpendapat bahwa konflik tersebut terjadi akibat keyakinan AS dan Israel bahwa Teheran telah melemah dan kehilangan kemampuan pencegahan regionalnya.
Menurutnya, penilaian tersebut terbukti sebagai kesalahan perhitungan yang fatal, karena Teheran justru memberikan perlawanan sengit dan memaksa pihak lawan untuk menghentikan kampanye militer mereka.
"Pengalaman dari perang 12 hari sebelumnya memungkinkan Iran memperkuat kemampuan militer dan meningkatkan kesiapan operasional, yang pada akhirnya membuka jalan bagi kemenangan dalam konflik 40 hari berikutnya."
Lebih lanjut ia juga mencatat bahwa kemampuan peluncuran rudal Iran telah ditingkatkan secara signifikan selama bulan-bulan jeda tersebut, sehingga menggagalkan perkiraan pihak musuh.
Araqchi juga menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata tetap dalam status siaga penuh selama perundingan berlangsung dan tidak pernah diperintahkan untuk mengandalkan diplomasi semata demi pertahanan nasional.