Iran Kirim Pesan Keras ke Amerika, Timur Tengah Kembali di Ambang Konflik Besar

Ilustrasi serangan Iran yang membuat Amerika Serikat kewalahan.
Sumber :
  • siap.viva/AI

Pemerintah Kuwait kemudian mengimbau masyarakat untuk melakukan penghematan penggunaan listrik menyusul gangguan yang terjadi.

img_title Iran Geser Strategi Hadapi AS, Balasan Lebih Berat Mulai Diperingatkan

Di saat bersamaan, sejumlah negara di kawasan terus mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi guna mencegah perang meluas.

Dalam beberapa hari terakhir juga muncul laporan bahwa kelompok Houthi di Yaman berpotensi menutup jalur pelayaran Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.

img_title Iran Peringatkan Korea Selatan: Bantu Amerika di Selat Hormuz Berarti Siap Perang

Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, pasar energi dunia diperkirakan kembali bergejolak, inflasi meningkat, dan tekanan terhadap pemerintahan Donald Trump untuk menghentikan operasi militer diprediksi semakin besar.

Di dalam negeri Amerika Serikat sendiri, perang ini disebut tidak mendapat dukungan luas dan dinilai telah memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

img_title Legislator Iran Ultimatum Menteri Perang AS: Serang Aset Kami, Maka Kalian Akan Diserang

Di sisi lain, Angkatan Darat Republik Islam Iran mengumumkan telah melancarkan serangan balasan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap dua fasilitas militer utama Amerika Serikat di Kuwait.

Dikutip dari kantor berita Tasnim News, sasaran operasi tersebut meliputi depot amunisi, sistem radar, serta infrastruktur logistik militer.

Serangan itu disebut sebagai respons atas gelombang serangan mematikan yang berulang kali dilakukan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran.

"Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa pasukannya telah menargetkan dua instalasi militer penting AS di Kuwait dalam tahapan beruntun Operasi Thunderbolt, dengan menggunakan drone bermuatan bahan peledak yang menyasar aset-aset strategis Amerika," demikian bunyi keterangan dari laporan tersebut pada Minggu, 19 Juli 2026.

Militer Iran menyatakan operasi tersebut merupakan balasan atas agresi Amerika Serikat yang telah menyebabkan jatuhnya korban sipil, kerusakan infrastruktur, serta serangan terhadap kawasan nonmiliter.

"Pada tahap ke-16 operasi tersebut, Angkatan Darat menyatakan telah menyerang depot amunisi AS di Camp Udairi serta sistem radar Patriot dan radar pengawasan udara di Pangkalan Udara Ali Al-Salem, Kuwait."

Dalam keterangannya, Camp Udairi disebut sebagai salah satu pangkalan regional terpenting milik Amerika Serikat yang berada sekitar 104 kilometer dari perbatasan Iran dan berfungsi sebagai pusat dukungan serta penataan ulang kekuatan militer Washington.

Halaman Selanjutnya
img_title