Babak Baru Perang AS-Iran Jilid 2, Selat Hormuz Membara, Operasi Militer Makin Meluas dan Mengerikan?

Potret ilustrasi
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kini memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya.

img_title Iran Tak Gentar Perang Berkepanjangan, AS Mulai Hitung Persediaan Senjata

Setelah lebih dari sepekan eskalasi terus meningkat, kedua belah pihak kini mulai membidik infrastruktur penting.

Langkah agresif ini memicu kekhawatiran global akan meluasnya perang ke fasilitas sipil dan sektor energi yang menjadi urat nadi kawasan Teluk.

img_title Iran Bertekad untuk Terus Melawan hingga AS-Israel Kalah Total

Militer AS pada Jumat (17/7/2026) meluncurkan serangan udara masif yang menargetkan sejumlah jembatan strategis di wilayah Iran.

Tidak tinggal diam, Teheran langsung membalas dengan menggempur fasilitas pembangkit listrik serta instalasi desalinasi air di Kuwait.

img_title Di Tengah Perang Iran-AS, Kanada Dapat Sindiran Tak Terduga dari Teheran

Di saat yang sama, konfrontasi di jalur laut kian membara. Ketegangan meningkat drastis setelah kapal-kapal tanker kembali menjadi target serangan, memicu ancaman nyata pada kelancaran jalur pelayaran energi utama dunia.

Selat Hormuz dan Laut Merah Membara

Di kawasan Selat Hormuz titik krusial yang kini memutus pasokan energi dari Teluk Marinir AS dilaporkan menaiki sebuah kapal tanker.

Di sisi lain, media Iran yang mengutip Garda Revolusi Iran (IRGC) melaporkan bahwa dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar hebat setelah melewati jalur yang dipasangi ranjau di sisi selatan selat tersebut.

Kondisi serupa terjadi di Laut Merah. Kelompok bersenjata terpantau menyita sebuah kapal di lepas pantai Yaman.

Insiden ini memperparah kecemasan atas keamanan Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Televisi pemerintah Iran mengutip pernyataan Garda Revolusi yang menegaskan bahwa selama "agresi" Amerika Serikat belum dihentikan, ekspor energi dari kawasan tidak akan dapat berjalan.

"Sampai agresi Amerika Serikat berakhir, tidak akan mungkin mengekspor pupuk kimia maupun bahkan 'setetes pun minyak dan gas' dari kawasan," demikian pernyataan Garda Revolusi yang disiarkan televisi pemerintah Iran, sebagaimana dilansir Reuters.

Sejak gencatan senjata runtuh pekan lalu, Washington dan Teheran terus menguji batas eskalasi hingga memicu kekhawatiran pecahnya perang berskala penuh.

Pasar energi pun langsung bergejolak; harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 3% pada Jumat, mencatat kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.

Halaman Selanjutnya
img_title