Strategi AS Hadapi Iran Jadi Sorotan, Laporan Internasional Ungkap Alasannya
- Istimewa
Direktur Studi Iran di Stanford University, Abbas Milani, menilai tim negosiasi Amerika Serikat belum sepenuhnya memahami kompleksitas sejarah dan dinamika politik Timur Tengah.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pendekatan Washington berubah-ubah selama proses negosiasi.
Pada Juni 2026, Donald Trump sempat menyebut negosiator Iran sebagai pihak yang rasional dan pintar.
Namun, pada Juli 2026, pernyataannya berubah dengan menyebut mereka tidak rasional.
Sementara itu, data operasional yang dipublikasikan Mehr News Agency menyebut sistem pertahanan dan komando Iran tetap mampu beroperasi selama konflik berlangsung.
Laporan tersebut menyatakan jaringan logistik serta struktur komando militer Iran tetap berjalan sehingga aktivitas pertahanan di sejumlah wilayah strategis dapat dipertahankan.
Dalam analisis yang dimuat Mehr News Agency, kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat target strategis Amerika Serikat belum tercapai.
Sementara biaya operasi militer dan tekanan terhadap kredibilitas Washington di kawasan terus meningkat.