6 Kesalahan Fatal yang Bikin AS Babak Belur Hadapi Iran: Kesombongan Trump Berbuah Petaka
- Tangkapan layar YouTube Kompas
Kesalahan ke-empat adalah kesenjangan yang lebar antara tujuan besar dan sarana yang terbatas.
Target AS adalah memaksa Republik Islam melakukan kapitulasi geopolitik total.
Namun di sisi lain, Washington tidak bersedia menanggung risiko politik dan biaya untuk mengerahkan pasukan darat.
Pengalaman pahit dari perang Irak dan Afghanistan menjadi faktor pembatas yang mengurangi ruang gerak militer AS.
Kesalahan ke-lima terletak pada kelemahan proses penentuan kebijakan.
Keputusan diambil di dalam lingkaran penasihat yang sangat sempit.
Mereka tidak menguji asumsi secara ketat atau mendengarkan analisis dari para profesional.
Potret ilustrasi
- Istimewa
Kesalahan ke-enam adalah kecenderungan mengganti strategi dengan kekuatan militer murni dan insting politik.
Akibatnya AS gagal mengubah keuntungan taktis menjadi kemenangan politik yang permanen.
Kebuntuan strategi ini berdampak langsung pada stabilitas jalur pasukan energi dunia di Selat Hormuz.
Investigasi mendalam The New York Times memaparkan perubahan kebijakan yang terjadi secara drastis di Gedung Putih.
Trump Blunder
Memasuki hari ke-136 perang, tepatnya Senin, 13 Juli 2026, Trump mengumumkan kebijakan sepihak.
Ia berencana mengenakan biaya tol sebesar 20 persen bagi setiap kapal kargo internasional yang melintasi Selat Hormuz.
Biaya ini diklaim sebagai kompensasi atas jaminan keamanan dari angkatan laut AS.
Keputusan tersebut langsung memicu penolakan keras dari komunitas internasional karena dinilai melanggar hukum laut.
Kris diplomasi internal kemudian pecah dalam waktu singkat.
Tepat pada hari ke-137 perang, Selasa, 14 Juli 2026, Trump secara mendadak membatalkan rencana itu.
Pembatalan dilakukan setelah ia menerima panggilan protes dari para pemimpin negara Arab di kawasan Teluk.
Negara-negara itu enggan menanggung beban finansial baru.
Trump kemudian berdalih, pembatalan dilakukan karena negara teluk menjanjikan investasi besar sebagai gantinya.
Meski demikian, tidak ada rincian dokumen konkrit yang dirilis ke publik.
Perubahan kebijakan dalam waktu 24 jam ini menunjukkan tidak adanya koordinasi matang dengan sekutu di lapangan.
Eks penasihat keamanan nasional AS, John Hannah menegaskan operasi militer ini sejak awal dibangun di atas asumsi yang keliru.
Hannah menilai pemerintah AS bertindak di bawah keyakinan bahwa rezim Iran adalah bangunan rapuh yang siap runtuh.