Diplomasi Kandas, Iran: Kami Tak Ingin Perang, Tapi Kalau Terpaksa Kami Siap Lawan Hingga Nafas Terakhir!!

Potret ilustrasi
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Situasi di Timur Tengah kembali membara setelah konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) pecah dalam sepekan terakhir.

img_title Bukan Sekadar Soal Iran, Laporan Ini Disebut Bisa Mengubah Perhitungan Militer AS

Ketegangan terbaru ini dipicu oleh sengketa pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.

Menanggapi situasi yang kian genting, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa militer negaranya selalu siap untuk menghadapi skenario terburuk.

img_title Heboh Ketegangan di Gedung Putih Bocor, Menhan AS Diamuk Trump Terkait Perang Iran

Meski demikian, ketua juru runding negosiasi dengan AS tersebut juga menekankan pentingnya langkah-langkah diplomatik untuk melindungi negara.

"Kami tidak pernah menginginkan perang dan tidak menginginkannya sekarang, tapi kami harus selalu siap untuk berperang serta membela keamanan dan kepentingan nasional hingga napas terakhir," kata Ghalibaf di akun Telegram miliknya, dikutip Kamis (16/7/2026).

img_title Teheran Ungkap Sinyal yang Tak Terduga, Kesepakatan Iran-AS Makin Dekat?

Ghalibaf menambahkan bahwa kesiapan militer harus berjalan beriringan dengan upaya politik.

"Pada saat yang sama, kita juga harus menggunakan diplomasi dan negosiasi untuk memajukan dan melindungi kepentingan nasional kita," sambungnya.

Konflik akut ini kembali pecah sejak 7 Juli lalu.

Hubungan kedua negara memburuk setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Memorandum of Understanding (MoU) gencatan senjata telah berakhir.

Pernyataan Trump memicu kontroversi. Pasalnya, MoU untuk mengakhiri perang yang berlangsung sejak 28 Februari tersebut seharusnya berlaku selama 60 hari, terhitung sejak kedua pihak meneken perjanjian pada 17 Juni lalu.

Alih-alih mereda, aksi saling serang dari kedua belah pihak justru semakin intensif dalam beberapa hari belakangan.

AS dan Iran dilaporkan sama-sama memperluas wilayah dan target serangan mereka.

Trump pada Selasa lalu menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut dan meningkat dalam beberapa hari mendatang.

Pentagon bahkan bersiap menargetkan infrastruktur vital seperti pembangkit listrik dan jembatan pada pekan depan, kecuali Teheran bersedia kembali ke meja perundingan.

Kendati demikian, opsi negosiasi tampaknya masih menemui jalan buntu.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Esmail Baghaei menyatakan bahwa Iran tidak memiliki rencana untuk bernegosiasi dengan AS saat ini.

"(Iran) Fokus pada pertahanan," tegas Baghaei.

Dampak dari eskalasi militer ini mulai memakan korban jiwa dari masyarakat sipil.

Halaman Selanjutnya
img_title