Mengapa Otak Manusia Lebih Membutuhkan Hutan daripada Wi-Fi? Begini Jawaban Pakar UI
- Istimewa
Diskusi berlangsung interaktif dengan membahas berbagai isu, mulai dari Attention Restoration Theory, pengaruh ruang hijau terhadap kreativitas, hubungan bentuk arsitektur dengan persepsi emosi, hingga tantangan generasi muda untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap gawai.
Salah satu pembahasan menarik adalah bagaimana alam memberikan pelepasan dopamin yang lebih lambat tetapi lebih berkelanjutan dibandingkan stimulasi cepat dari media sosial maupun gim digital.
Di akhir sesi, para peserta menyepakati bahwa alam tidak lagi dapat dipandang sebagai ruang rekreasi semata, melainkan sebagai bagian dari infrastruktur kesehatan mental, pembelajaran, dan ketahanan masyarakat.
Melalui The Regenerative Dialogue Series, ARA Academy, DRRC UI, Neu Corporation dan Yayasan RKD (Klinik Digital) berkomitmen membangun ekosistem Collaborative Learning yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pengalaman lintas negara, dan refleksi bersama untuk melahirkan solusi-solusi regeneratif bagi tantangan masa depan.
Sebab, di tengah dunia yang semakin cepat, mungkin yang paling dibutuhkan manusia bukanlah perangkat yang lebih pintar, melainkan lingkungan yang membantu otaknya kembali berpikir seperti seharusnya.