Mengapa Otak Manusia Lebih Membutuhkan Hutan daripada Wi-Fi? Begini Jawaban Pakar UI
- Istimewa
"Sementara di Klinik Digital, kami belajar bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan menjaga kesehatan kognitif dan emosional ketika hidup berdampingan dengan teknologi," sambungnya.
Menurut Devie environmental neuroscience mempertemukan dua perspektif itu dalam satu titik yaitu lingkungan yang sehat membentuk pikiran yang sehat, dan pikiran yang sehat melahirkan masyarakat yang lebih tangguh.
Dalam paparannya, Anneka menjelaskan bahwa Environmental Neuroscience mempelajari hubungan timbal balik antara otak dan lingkungan. Lingkungan bukan sekadar latar tempat manusia hidup, melainkan faktor biologis yang terus “menyetel” cara otak bekerja, mulai dari perhatian, emosi, motivasi, hingga perilaku sosial.
Menurut Anneka, kehidupan modern menghadirkan apa yang disebut sebagai evolutionary mismatch, yaitu kondisi ketika manusia yang berevolusi di lingkungan alami kini menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang tertutup, kota padat, layar digital, dan paparan informasi yang terus-menerus.
“Kita sering menganggap lingkungan hanyalah latar belakang kehidupan kita. Padahal lingkungan adalah bagian dari sistem biologis yang membentuk cara otak bekerja. Nature is not a luxury. It is part of our cognitive infrastructure.”
Anneka juga mengulas berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa paparan ruang hijau mampu menurunkan hormon stres, memperbaiki perhatian, meningkatkan motivasi, bahkan mempercepat proses pemulihan pasien di rumah sakit yang memiliki pemandangan pepohonan dibandingkan tembok beton.
Sebagai moderator, Novi Kresna Murti menekankan bahwa regenerative thinking tidak berarti menolak kota ataupun teknologi.
“Tujuan kita bukan memilih antara kota atau hutan. Yang kita cari adalah keseimbangan. Kota tetap dibutuhkan untuk pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan inovasi. Tetapi kota masa depan juga harus menyediakan ruang hijau, ruang hening, cahaya alami, dan lingkungan yang membantu manusia memulihkan energi mentalnya.”
Novi menambahkan bahwa banyak orang tidak menyadari sedang mengalami stres karena terbiasa hidup di lingkungan yang bising, padat, dan penuh stimulasi.
“Sering kali langkah pertama bukan mencari solusi yang rumit, tetapi mengenali sumber stres itu sendiri, namun apakah berasal dari kebisingan, kepadatan, panas, beban kerja, atau paparan digital yang berlebihan. Ketika kita memahami sumbernya, kita dapat mulai mendesain kembali lingkungan yang lebih menyehatkan.”