Mengapa Otak Manusia Lebih Membutuhkan Hutan daripada Wi-Fi? Begini Jawaban Pakar UI
- Istimewa
Siap – Asia Regenerative Academy (ARA Academy), Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI), Neu Corporation dan Yayasan Ruang Karya Berdampak (Klinik Digital) kembali menyelenggarakan The Regenerative Dialogue Series Vol. 3.
Agenda tersebut bertajuk “Why Your Brain Misses Forests More Than Wi-Fi”, sebuah sesi Collaborative Learning yang mempertemukan mahasiswa, peneliti, akademisi, dan praktisi lintas disiplin untuk mendiskusikan temuan-temuan terbaru di bidang Environmental Neuroscience.
Berbeda dengan seminar konvensional, forum ini mengusung pendekatan Collaborative Learning, di mana tidak ada dosen, mentor, maupun narasumber yang diposisikan sebagai pemilik kebenaran tunggal.
Seluruh peserta menjadi pembelajar yang saling bertukar pengalaman, perspektif, dan refleksi berdasarkan bukti ilmiah.
Kegiatan dibuka oleh Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, mewakili Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) dan Klinik Digital, serta dimoderatori oleh Novi Kresna Murti, Co-Founder Asia Regenerative Academy.
Sesi utama disampaikan oleh Anneka Hasumi Coates, mahasiswa Arts & Sciences di International Christian University (ICU) Tokyo sekaligus Research Assistant di NeU Corporation Jepang, yang memaparkan bagaimana lingkungan fisik memengaruhi struktur, fungsi, dan perilaku otak manusia.
Membuka diskusi, Devie Rahmawati, pembina Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), mengajak peserta mempertanyakan kembali asumsi bahwa kemajuan teknologi selalu identik dengan peningkatan kualitas hidup.
Devie mengatakan, selama bertahun-tahun banyak yang percaya bahwa semakin cepat internet, semakin canggih perangkat digital, maka hidup kita akan semakin baik.
Namun neuroscience justru mengingatkan sesuatu yang sederhana tetapi mendasar yaitu otak manusia berevolusi selama ratusan ribu tahun di tengah hutan, sungai, cahaya matahari, dan keanekaragaman hayati, bukan di tengah notifikasi tanpa henti.
Karena itu, menurutnya membangun masyarakat yang tangguh tidak cukup hanya memperkuat infrastruktur digital. "Kita juga perlu memulihkan kapasitas biologis manusia untuk berpikir jernih, mengelola stres, dan mengambil keputusan yang sehat," ujarnya.
Devie menjelaskan bahwa perspektif tersebut sangat dekat dengan praktik yang selama ini dikembangkan DRRC UI maupun Klinik Digital.
"Di DRRC UI, kami memandang pengurangan risiko bencana bukan hanya soal membangun infrastruktur yang kuat, tetapi juga membangun manusia yang resilien."