Trump Bergerak, Iran Langsung Bereaksi, Situasi Timur Tengah Makin Panas

Ilustrasi potret Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Washington mengumumkan pemberlakuan kembali blokade terhadap sejumlah pelabuhan utama Iran.

img_title Kabar Stok Rudal AS Menipis Bikin Trump Murka, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Kebijakan tersebut diambil di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi dunia.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan langkah tersebut dilakukan setelah menuduh Teheran berada di balik serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

img_title Amerika Tak Lagi Punya Harga Diri, Legislator Iran Sebut Trump Cuma Diplomasi Teater

Keputusan yang diambil Presiden Donald Trump itu sekaligus mengakhiri masa jeda kemanusiaan dan upaya diplomasi yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.

Sebelumnya, kedua pihak memiliki waktu selama 60 hari untuk melakukan perundingan terkait program nuklir Iran melalui jalur damai.

img_title Tak Sudi Amerika Desak Iran Berunding, Israel Ancam Serang Teheran Secara Brutal

Namun, pecahnya kembali bentrokan di kawasan Selat Hormuz membuat proses negosiasi tersebut terancam gagal.

Pemberlakuan blokade oleh Amerika Serikat langsung memicu respons keras dari Teheran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan ekonomi maupun militer yang diberikan Washington.

"Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan menjadi milik semua orang atau bukan milik siapapun," tegas Garda Revolusi Iran dalam pernyataan resminya, mengisyaratkan kesiapan mereka untuk menyabotase aliran energi dari Timur Tengah, sebagaimana dikutip dari The Associated Press, Rabu, 15 Juli 2026.

Di tengah meningkatnya ketegangan, dampak konflik mulai dirasakan warga sipil.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menyatakan bahwa serangan udara yang dilakukan militer Amerika Serikat pada malam sebelumnya menyebabkan lebih dari 260 orang mengalami luka-luka.

Meski belum mengungkap jumlah korban meninggal dunia, Kermanpour menilai tingkat kerusakan akibat serangan kali ini jauh lebih besar dibanding insiden sebelumnya di sekitar Selat Hormuz.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan operasi udara yang mereka jalankan berlangsung sekitar tujuh jam dan menyasar puluhan target strategis di wilayah Iran.

Laksamana Brad Cooper menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai respons terhadap serangan rudal dan drone yang menurut Amerika Serikat diluncurkan Iran ke sejumlah negara di kawasan Teluk.

"Pasukan AS meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan yang terus membahayakan nyawa orang tak berdosa," ujar Cooper secara tertulis.

Halaman Selanjutnya
img_title