Gawat, AS Gempur Iran 7 Jam, IRGC Ancam Hentikan Total Pasokan Minyak Timur Tengah, Mereka Bukan Korban!!
- Istimewa
Timur Tengah Siaga Satu
Ketegangan bersenjata ini dengan cepat menjalar ke negara-negara tetangga. Kuwait dan Bahrain kini berada dalam status siaga rudal.
Sementara itu, militer Yordania mengklaim telah berhasil mencegat dan menghancurkan tiga rudal milik Iran yang melintasi wilayah udara mereka.
Pihak Teheran sendiri secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas peluncuran rudal-rudal tersebut.
Guna mengantisipasi situasi darurat, militer AS kini menyiagakan sedikitnya 19 kapal perang di kawasan Teluk, termasuk dua kapal induk raksasa serta satu kapal serbu amfibi yang mengangkut lebih dari 1.000 pasukan marinir.
Menanggapi pengerahan kekuatan militer ini, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, melayangkan surat protes keras.
Iravani menuduh Washington sebagai dalang utama di balik kekacauan ini.
"AS adalah agresor, bukan korban," tegas Iravani seperti dikutip oleh kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
Gejolak Pasar Minyak Dunia
Sebelum ketegangan bersenjata ini memuncak, Trump sempat melontarkan wacana untuk mengenakan pungutan sebesar 20% bagi setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Kebijakan tarif tersebut akhirnya dibatalkan setelah adanya lobi dari para pemimpin negara Teluk yang menawarkan komitmen investasi bernilai miliaran dolar ke dalam proyek domestik AS.
Meski tarif dibatalkan, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah terlanjur membuat pasar energi dunia terguncang hebat.
Harga minyak mentah jenis Brent sempat meroket tajam hingga menyentuh angka US$87 per barel, sebelum akhirnya sedikit mereda di kisaran US$78 per barel.
Saat ini, para mediator regional terus berkejaran dengan waktu untuk membawa AS dan Iran kembali ke meja perundingan guna menghindari krisis energi global yang lebih destruktif.