Trump Panik dan Koar koar Jadi Target Pembunuhan, Iran: Kami dapat Mudah Melakukan Itu Meski di Gedung Putih!!
- Istimewa
Siap –Hubungan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali berada di titik nadir.
Ketegangan kedua negara kian memanas setelah seorang mantan komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan ancaman pembunuhan langsung yang ditujukan kepada Presiden AS Donald Trump.
Hossein Kanani Moghaddam, mantan komandan IRGC, secara blak-blakan mengklaim bahwa Republik Islam Iran memiliki kemampuan logistik dan intelijen untuk menargetkan Trump.
Bahkan, ancaman ini disebut tetap berlaku meski sang presiden berada di dalam fasilitas paling ketat di dunia, Gedung Putih.
"Jika tujuannya adalah membunuh Trump, Republik Islam dapat dengan mudah melakukannya di Gedung Putih. Kapan pun diperlukan, kami mampu melakukan itu," ujar Kanani Moghaddam kepada media Iran, Fararu.
Selain melontarkan ancaman tersebut, Kanani Moghaddam menegaskan bahwa pembicaraan diplomatik yang selama ini terjadi antara Teheran dan Washington bukan bertujuan untuk mencapai perdamaian jangka panjang.
"Kami tidak bernegosiasi dengan Amerika untuk perdamaian. Kami sedang bernegosiasi untuk mengurangi ketegangan," katanya.
Ia menambahkan, Iran hanya ingin memperjuangkan hak-haknya serta membantah berbagai tuduhan yang selama ini dilayangkan oleh Washington.
Isu pembalasan atas kematian jenderal-jenderal Iran di masa lalu tampaknya masih menjadi agenda utama Teheran.
"Kami tidak sedang bernegosiasi untuk perdamaian dengan Trump dan para pembantu kriminalnya. Kami hanya berupaya memulihkan hak-hak kami dan mengklarifikasi tuduhan Amerika Serikat. Mengenai balas dendam dan pembalasan, itu tetap berada di atas meja," ujarnya.
Ancaman ini bukan isapan jempol semata bagi pihak Gedung Putih.
Intelijen AS sebelumnya memang telah meningkatkan status keamanan di sekitar Trump menyusul adanya informasi mengenai plot pembunuhan aktif yang diotaki oleh Teheran.
Di sisi lain, Trump sendiri mengaku sudah sangat menyadari bahwa dirinya menjadi target utama.
Ia bahkan mengungkapkan telah meninggalkan instruksi militer khusus dan fatal apabila dirinya tewas akibat aksi pembunuhan yang dilakukan oleh agen Iran.
Dalam wawancara eksklusifnya dengan New York Post, Trump menegaskan bahwa pemerintah AS harus melancarkan serangan militer skala besar yang belum pernah ada sebelumnya terhadap Iran jika nyawanya melayang.