Rudal Iran Mengguncang Timur Tengah, Eskalasi Kini Makin Sulit Dikendalikan
- Istimewa
Siap – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin meluas setelah Teheran mengklaim melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi terbaru ini juga diwarnai keputusan Iran kembali menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, konfrontasi antara Teheran dan Washington memasuki fase yang lebih berbahaya setelah kedua negara saling melancarkan aksi militer dalam beberapa hari terakhir.
Setelah Amerika Serikat menggempur sejumlah target di wilayah Iran melalui serangan udara, Teheran merespons dengan operasi militer yang diklaim menyasar berbagai fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Republik Islam Iran menyebut serangan tersebut ditujukan ke aset militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, dan Yordania.
Target yang diklaim diserang meliputi pangkalan udara, sistem pertahanan, pusat komunikasi, hingga fasilitas logistik yang selama ini digunakan untuk mendukung operasi militer Washington di kawasan.
Di saat yang sama, Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi distribusi minyak dan gas dunia.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik tidak lagi terbatas pada hubungan Iran dan Amerika Serikat, tetapi mulai berdampak luas terhadap stabilitas kawasan Teluk.
Penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu perkembangan paling signifikan dalam konflik terbaru tersebut.
Selama ini, jalur laut sempit itu menjadi rute utama pengiriman energi dari negara-negara Teluk menuju berbagai belahan dunia.
Teheran menyatakan keputusan tersebut diambil setelah meningkatnya operasi militer Amerika Serikat serta adanya pelanggaran terhadap kesepahaman yang sebelumnya pernah disepakati kedua negara.
Pemerintah Iran juga menegaskan penutupan Selat Hormuz akan tetap berlaku hingga campur tangan militer Amerika Serikat di kawasan benar-benar berakhir.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut mengeluarkan pernyataan keras mengenai perkembangan situasi tersebut.
"Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah bilang tepati janji atau bayar harganya," tegas Ghalibaf.
Pernyataan tersebut menegaskan pandangan Teheran bahwa kesepakatan yang pernah terjalin tidak lagi memiliki dasar setelah serangan terbaru Amerika Serikat.