Program Kerja di Jepang Besutan Pemkot Depok Bikin Kaum Mendang Mending Sumringah: Sebulan Digaji Rp 20 Juta
- siap.viva.co.id
Siap – Pemerintah Kota Depok tengah berupaya keras menekan angka pengangguran. Salah satunya adalah dengan membuka program magang dan kerja di Jepang.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Depok, Nessi Annisa Handari mengungkapkan, ini adalah salah satu program yang masuk dalam skala prioritas.
"Pak Walikota (Supian Suri) konsen banget ini terhadap penurunan angka pengangguran. Bagaimana kita menyiapkan berbagai macam program yang langsung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dan masyarakat langsung mendapatkan pekerjaan ini," katanya saat dikonfirmasi pada Senin, 13 Juli 2026.
Nessi mengungkapkan, ada beberapa program yang memang menjadi prioritas Wali Kota Depok untuk dilakukan oleh Disnaker dalam rangka memfasilitasi warga untuk mendapatkan pekerjaan.
Di antaranya adalah dengan program magang dan kerja di Jepang. Tercatat sudah ada 100 peserta yang telah diberangkatkan ke negara tersebut.
"Yang sudah kita latih itu 160 orang, nah itu hampir 100-an lebih yang sudah berangkat ke Jepang," ujarnya.
Di negara tersebut, mereka bekerja diberbagai sektor, seperti pertanian, otomotif, perbengkelan dan lain-lain.
Nessi memastikan, sebelum bertolak ke Jepang mereka mendapat pelatihan khusus selama 4 bulan, dan itu dibiayai Pemkot Depok.
"Biayanya kita mendapatkan bantuan, untuk pelatihan sebesar Rp10 juta dan uang saku sebesar Rp4 juta per orang," jelasnya.
"Jadi mereka itu baru berangkat kemarin. Belum satu Minggu lebih lah, lalu cerita sama saya, bu ternyata gajian di sini tuh di akhir bulan. Saya sudah ditransfer Rp9 juta. Jadi saya sebulan 20 hari kerja. Itu artinya ya sekitar Rp20 jutaan berarti mereka terima," sambungnya.
Nessi menyebut, program ini memang sengaja dirancang agar mereka yang berangkat sudah siap kerja.
Adapun syarat untuk mengikuti pelatihan tersebut tidak lah sulit.
"Syarat sebenarnya yang terpenting adalah motivasi. Jadi pada saat wawancara, dia betul-betul memang ingin ke Jepang. Kenapa? Karena banyak yang karena pelatihannya 4 bulan dan mereka memang dilatih bahasa dan budaya. Nah banyak ternyata anak-anak kita yang kemudian tidak siap 4 bulan dilatih."
"Lalu yang kedua ketika mau berangkat orang tua tidak siap jauh dari anak. Itu yang berat. Sebenarnya yang utama adalah memiliki motivasi yang kuat," timpalnya lagi.