Makin Panas, AS Bombardir Iran dan Dekati Reaktor Nuklir, Pengamat: Bakal Ada Serangan Besar besaran?
- Istimewa
Siap –Situasi di Timur Tengah kian membara setelah serangan udara Amerika Serikat (AS) dilaporkan semakin meluas.
Operasi militer ini menyasar sejumlah fasilitas militer dan komersial di sedikitnya empat provinsi strategis Iran.
Rentetan ledakan hebat mengguncang berbagai kota penting, termasuk wilayah yang berdekatan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr dan kawasan pengawasan Selat Hormuz.
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber di Iran seperti dilansir Al Jazeera, Provinsi Bushehr menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak parah akibat serangan ini.
Beberapa ledakan dilaporkan mengguncang Kota Bushehr yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir utama Iran.
Di sisi lain, sedikitnya 10 ledakan dilaporkan terjadi di Jask, sementara ledakan lain terdengar di Sirik.
Kedua kota tersebut memiliki posisi vital karena berada di jalur pengawasan Selat Hormuz, yang merupakan rute pelayaran minyak paling penting di dunia.
Titik-Titik Ledakan di Wilayah Strategis
Ledakan juga dilaporkan terjadi di Bandar Abbas, Kangan, Bandar-e Deyr, Asaluyeh, serta wilayah Konarak di bagian tenggara Iran.
Lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB, melaporkan sedikitnya 12 ledakan terjadi di berbagai wilayah Provinsi Bushehr.
Rinciannya, lima ledakan terjadi di Kota Bandar-e Deyr, empat di Asaluyeh, dan tiga lainnya di Kota Bushehr.
Sementara itu, Student News Network TV mengutip seorang reporter IRIB yang menyebut sebuah barak militer di kawasan Risheh, Bushehr, menjadi sasaran serangan.
Ledakan juga dilaporkan mengguncang Kota Kangan, sementara sebuah pos militer di Bandar-e Deyr disebut ikut diserang.
Gelombang serangan dalam beberapa malam terakhir menunjukkan peningkatan cakupan operasi militer yang menyasar berbagai wilayah Iran.
Di sisi lain, Teheran terus menegaskan akan memberikan pembalasan yang lebih keras apabila eskalasi konflik terus berlanjut.
Analisis Pengamat: Konflik Panjang yang Naik-Turun
Merespons situasi ini, Rekan senior Atlantic Council, Thomas Warrick, menilai konflik ini berpotensi berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Menurutnya, hal ini terjadi karena kedua negara memiliki tujuan yang sangat berbeda dan minim saling percaya. Perbedaan cara pandang dan kepentingan antara Washington dan Teheran membuat upaya mediasi menjadi semakin sulit.