Balasan Kilat Iran Hancurkan 85 Basis Militer Amerika Serikat, Republik Islam Mode Tempur
- Istimewa
Dan kesiapan itu terlihat dari cepatnya Iran memulihkan mesin perangnya setelah gelombang serangan Amerika Serikat.
The Wall Street Journal melaporkan pasukan AS sebelumnya menargetkan titik-titik di Sirik, Qeshm, Bandar Abbas termasuk Pulau Abu Musa dan kepulauan Tanpus di sekitar Selat Hormuz.
Wilayah-wilayah itu sebelumnya digempur dalam perang yang dimulai pada 28 Februari dan berlangsung hingga gencatan senjata berlaku pada 7 April 2026.
Namun setelah itu Iran tidak diam. Pejabat senior Amerika Serikat mengakui Teheran justru cepat membangun kembali kemampuan militernya di kawasan itu.
Salah satunya dengan memindahkan rudal portable untuk menggantikan posisi-posisi tetap yang sudah dihancurkan.
Bukan cuma itu, sejak gencatan senjata Iran juga disebut sudah menggali kembali rudal dan peluncur yang sebelumnya rusak atau tertimbun akibat serangan Amerika Serikat.
Ilustrasi rudal Iran di balik konflik AS. Indonesia ikut bersiap
- Istimewa
Hasilnya rezim Iran kini dikatakan sudah bisa mengakses selebih dari setengah stok rudal dan peluncur yang mereka miliki sebelum konflik meledak.
Jadi yang terlihat diteluk bukan sekedar aksi balasan biasa.
Ini adalah sinyal bahwa Iran masih punya nafas tempur, masih punya cadangan daya tempur, dan masih bisa bergerak cepat meski baru saja diguncang perang yang berada dalam suasana duka nasional.
Dan dari sinilah pertanyaan besarnya muncul. Jika dalam kondisi sesempit itu saja Iran masih bisa memulihkan diri dan menyiapkan serangan.
Apakah Washington selama ini memang salah menghitung ketahanan perang Teheran?