Timur Tengah Kembali Membara, Iran dan AS Tingkatkan Intensitas Serangan

Potret ilustrasi perang Iran dan Amerika Serikat (AS).
Sumber :
  • AI

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan terbaru Washington dan menyebutnya sebagai kejahatan perang.

img_title Iran Tangkap Kapal Selam Nirawak Canggih AS di Selat Hormuz, IRGC: Kembalilah ke 'Teluk Babi'

Pemerintah Iran juga melaporkan sejumlah infrastruktur penting mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Termasuk beberapa jembatan dan jalur kereta api yang menghubungkan Teheran dengan Mashhad.

img_title Ini Syarat Mutlak Teheran Jika AS Ingin Situasi Kembai Normal, Iran Melunak?

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran sebenarnya telah menghubungi Washington untuk membahas peluang tercapainya kesepakatan baru.

Meski demikian, Trump mengaku masih meragukan keseriusan Teheran dalam mematuhi setiap perjanjian yang nantinya disepakati.

img_title Selat Hormuz Jadi Medan Strategis, Iran Mulai Membatasi Ruang Gerak Negara Pendukung AS

"Saya tidak tahu apakah mereka layak membuat kesepakatan. Saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu," ucap Trump.

Sebelumnya, Trump juga menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada Juni telah berakhir.

Ia bahkan menilai pembicaraan lanjutan dengan Iran sudah tidak lagi memberikan manfaat.

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak akan menanggapi tekanan maupun pernyataan keras dari Washington hanya melalui retorika politik, melainkan dengan langkah nyata di lapangan.

Meningkatnya intensitas konflik kini mulai berdampak langsung terhadap aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Organisasi pemilik kapal tanker independen, Intertanko, melaporkan jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut melalui rute selatan merosot tajam hingga hanya mencapai satu digit per hari.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal sebelum konflik, yang rata-rata mencapai sekitar 130 kapal setiap hari.

Menurut Intertanko, situasi keamanan yang semakin tidak menentu akibat eskalasi konflik telah meningkatkan kekhawatiran pelaku industri pelayaran internasional, termasuk para awak kapal yang beroperasi di kawasan Selat Hormuz.