Bukan Sekadar Balas Serangan, Iran Kirim Sinyal yang Membuat AS Harus Berhitung Ulang

Potret ilustrasi perang Iran - Amerika Serikat (AS).
Sumber :
  • Istimewa

Padahal konsep tersebut telah berkali-kali terbukti gagal sepanjang sejarah peperangan modern.

img_title Iran Ungkap Risiko yang Bisa Menghantam Washington, Blokade Ekonomi AS Tak Berpengaruh?

Gagasan mengenai dominasi udara mulai berkembang sejak Perang Dunia I ketika sejumlah ahli militer percaya kemenangan dapat diraih hanya melalui penguasaan wilayah udara.

Pemikiran itu kemudian berkembang menjadi doktrin pengeboman strategis yang bertujuan menghancurkan kota, pusat industri, dan infrastruktur lawan agar menyerah.

img_title Iran Kirim Peringatan Keras ke AS, Apa yang Terjadi Jika Blokade Berlanjut?

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hasil yang berbeda.

Pada Perang Dunia II, pengeboman besar-besaran Jerman terhadap Inggris tidak mampu memaksa London menyerah.

img_title Utang Jadi Instrumen Perekrutan Perang? Iran Soroti Strategi Baru di Balik Konflik

Sebaliknya, serangan udara Sekutu ke Jerman juga tidak langsung menghancurkan perlawanan rezim Nazi.

Jerman akhirnya runtuh setelah pasukan darat Sekutu terus melakukan tekanan dari berbagai front.

Jepang juga mengalami pengalaman serupa. Meskipun kota-kotanya mengalami kerusakan akibat pengeboman, penyerahan Jepang baru terjadi setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki serta Uni Soviet ikut memasuki medan perang di Manchuria.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa kemenangan tidak ditentukan oleh kekuatan udara semata.

Pola serupa kembali terlihat dalam Perang Vietnam. Amerika Serikat menjatuhkan sekitar 7,6 juta ton bom, hampir tiga kali lipat dibanding total bom yang digunakan di Eropa dan Pasifik selama Perang Dunia II.

Meski demikian, Vietnam Utara tetap bertahan hingga perang berakhir melalui Perjanjian Paris pada 1973.

Dua tahun kemudian, Vietnam Utara berhasil menguasai Vietnam Selatan.

RAND Corporation bahkan telah mengingatkan hal tersebut melalui penelitian yang diterbitkan pada 996.

Lembaga riset itu menyimpulkan bahwa kekuatan udara saja hampir tidak pernah cukup untuk memaksa lawan menerima syarat yang diinginkan.

Keberhasilan strategi udara harus dibarengi faktor lain, termasuk ancaman invasi darat yang nyata.

Dalam konflik dengan Iran, syarat tersebut dinilai tidak terpenuhi.

Amerika Serikat tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan invasi darat berskala besar.

Selain itu, Washington juga tidak memiliki sekutu lokal yang cukup kuat untuk menggulingkan pemerintahan Iran dari dalam.

Sebaliknya, Iran masih memiliki kemampuan melakukan serangan balasan melalui rudal, drone, maupun tekanan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Hingga kini konflik belum benar-benar mereda.

Halaman Selanjutnya
img_title