Bukan Sekadar Balas Serangan, Iran Kirim Sinyal yang Membuat AS Harus Berhitung Ulang
- Istimewa
Rangkaian serangan itu memperlihatkan bahwa setiap aksi militer Washington terhadap Iran berpotensi memicu serangan balasan yang meluas hingga ke negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Sejumlah pengamat kemudian menilai Amerika Serikat kini harus menghadapi konsekuensi dari kebijakan militernya sendiri di kawasan.
Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, Eric Brewer, menilai Presiden Donald Trump sedang menerima dampak dari kebijakan yang sebelumnya diambil terhadap Iran.
Sementara itu, pakar strategi Iran sekaligus penulis buku mengenai strategi besar Republik Islam, Vali Nasr, mengingatkan bahwa eskalasi terbaru dapat menggagalkan nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju proses perdamaian.
Analis Timur Tengah dari European Council on Foreign Relations, Eli Garen, menilai persoalan utama berada pada perbedaan prioritas kedua negara.
Menurutnya, Iran enggan mengurangi pengaruhnya di Selat Hormuz sebelum memperoleh kesepakatan yang lebih luas mengenai dukungan ekonomi dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, bagi pemerintahan Trump, pembukaan kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut justru menjadi inti dari nota kesepahaman yang sedang dibahas.
Perbedaan kepentingan itu membuat kedua negara berjalan ke arah yang berbeda meskipun sama-sama mengklaim masih berpegang pada kesepakatan yang ada.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa nota kesepahaman tersebut tetap memberikan kendali Iran atas Selat Hormuz setidaknya selama 60 hari.
Karena itu, ketika Amerika Serikat bersama Oman mendorong pembukaan jalur alternatif di kawasan Hormuz, Teheran menganggap langkah tersebut sebagai bentuk campur tangan terhadap hak yang mereka klaim.
Operasi militer Washington kembali memperlihatkan keunggulan teknologi persenjataan Amerika Serikat.
Namun di balik itu muncul pertanyaan mengenai efektivitas strategi yang hanya mengandalkan kekuatan udara.
Mengutip laporan The Atlantic, analis pertahanan sekaligus mantan personel militer Amerika Serikat, Brenten Hill, menilai Washington kembali mengulangi kesalahan yang telah terjadi dalam berbagai konflik besar.
Menurut Hill, pemerintah Amerika Serikat masih berharap serangan udara mampu memaksa lawan menyerah tanpa perlu melakukan invasi darat dalam skala besar.