Bukan Sekadar Balas Serangan, Iran Kirim Sinyal yang Membuat AS Harus Berhitung Ulang
- Istimewa
Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer hanya dalam hitungan jam.
Aksi balasan Teheran yang menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk memunculkan kembali pertanyaan besar mengenai efektivitas strategi Washington yang masih mengandalkan dominasi serangan udara untuk menekan Republik Islam.
Mengutip tayangan kanal YouTube Kompas, beberapa jam setelah militer Amerika Serikat menyerang sejumlah target di wilayah Iran, Teheran langsung merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Serangan tersebut memperlihatkan bahwa Iran tidak lagi sekadar mengandalkan strategi bertahan.
Republik Islam menunjukkan kemampuannya melakukan serangan balasan secara cepat terhadap kepentingan militer Amerika Serikat.
Langkah Washington yang kembali mengandalkan kekuatan udara memang mampu menghantam sejumlah sasaran di wilayah Iran.
Namun respons Teheran menunjukkan bahwa strategi tersebut tidak otomatis mampu melumpuhkan kekuatan militernya.
Sejak awal banyak pengamat telah mengingatkan bahwa Iran bukan lawan yang mudah dipaksa menyerah hanya melalui operasi udara.
Meski demikian, Amerika Serikat tetap mempertahankan pola yang sama dalam menghadapi Teheran.
Pertanyaannya, mengapa Washington kembali memilih strategi tersebut?
Benarkah pendekatan militer yang selama ini digunakan masih relevan untuk menghadapi Iran?
Sirene peringatan berbunyi di Kuwait dan Bahrain ketika rudal-rudal Iran menghantam sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk pada Rabu, 8 Juli 2026.
Serangan itu terjadi kurang dari 24 jam setelah militer Amerika Serikat lebih dulu menggempur sejumlah target di wilayah selatan Iran.
Akibat eskalasi tersebut, negara-negara Teluk kembali menjadi pihak yang ikut merasakan dampak langsung dari konflik antara Washington dan Teheran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah melancarkan operasi gabungan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan sedikitnya 85 fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.
Target yang disebutkan antara lain Bandar Salman yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.
Selain itu, Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat yang disebut berupaya mengganggu jalannya operasi tersebut.