Iran Kirim Pesan Menohok, Pernyataan Terbaru Ini Bikin Situasi Makin Memanas

Ilustrasi perang Iran dan Amerika Serikat.
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Pecahnya kembali ketegangan di Timur Tengah memicu eskalasi baru yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

img_title Tak Banyak Diketahui, Begini Operasi Nekat AS di Dalam Wilayah Iran

Setelah gencatan senjata yang sempat berlaku dinyatakan berakhir, ketiga pihak mulai meningkatkan langkah militer masing-masing sehingga memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.

Konflik terbuka antara Washington dan Teheran kembali terjadi setelah nota kesepahaman gencatan senjata yang disepakati pada pertengahan Juni 2026 resmi dinyatakan berakhir oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

img_title Misteri Pilot F-15 AS di Iran: Nama Disamarkan Wajah Malah Terpampang Jelas TV, Pentagon Kebobolan?

Di tengah situasi tersebut, Israel juga meningkatkan kewaspadaan dan bersiap mendukung Amerika Serikat sebagai sekutu jika konflik berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas terhadap Iran.

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran, otoritas Israel langsung meningkatkan kesiapan militernya menghadapi berbagai kemungkinan.

img_title Perang Iran Beri Beban Ganda bagi AS, Anggaran Militer dan Inflasi Sama-Sama Naik

Militer Israel dilaporkan mulai menyusun sejumlah skenario operasi sebagai langkah antisipasi jika perang kembali meluas.

Pemerintah Israel menilai bentrokan antara Washington dan Teheran berpotensi berkembang dengan cepat sehingga dapat kembali menyeret Tel Aviv ke dalam konflik secara langsung.

Lembaga pertahanan Israel terus memonitor perkembangan situasi di kawasan.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bahkan meningkatkan status siaga, baik untuk kepentingan pertahanan maupun kemungkinan pelaksanaan operasi ofensif.

Berdasarkan laporan Channel 12 Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz menggelar rapat konsultasi keamanan pada Rabu malam, 8 Juli 2026, tidak lama setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang.

Sebagai bagian dari langkah antisipasi, IDF dikabarkan telah menempatkan pesawat-pesawat tempur dalam kondisi siaga penuh, memperbarui daftar sasaran berdasarkan intelijen terbaru, serta menyusun berbagai rencana operasi apabila eskalasi konflik terus meningkat.

Israel juga disebut tetap menjalin koordinasi intensif dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) agar siap menghadapi kemungkinan jika Iran memperluas serangan ke wilayah Israel maupun pangkalan milik sekutu Amerika.

Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan kembali mengirim pesawat tanker pengisian bahan bakar ke kawasan Timur Tengah.

Pesawat-pesawat tersebut sebelumnya sempat ditarik ketika gencatan senjata mulai berlaku pada awal April 2026.

Kembalinya armada tanker itu dinilai menjadi sinyal bahwa Washington tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik yang berlangsung lebih lama.

Iran pun langsung memberikan respons atas serangan terbaru yang dilancarkan Amerika Serikat.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Melalui siaran televisi pemerintah Iran, IRGC mengklaim telah menembakkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.

Target yang disebut menjadi sasaran meliputi Camp Arifjan dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta fasilitas militer Jufair dan Syekh Isa di Bahrain.

IRGC juga menegaskan bahwa operasi tersebut bukan menjadi akhir dari aksi balasan mereka.

Iran memperingatkan akan memperluas serangan ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat lainnya di Timur Tengah apabila Washington kembali melakukan operasi militer terhadap wilayah Republik Islam.

Sebelumnya, militer Iran menyampaikan bahwa delapan personel angkatan udara dan angkatan laut tewas akibat serangan Amerika Serikat di wilayah selatan negara itu, termasuk Bandar Abbas dan Bushehr.

Serangan balasan Iran kemudian memicu kewaspadaan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Militer Kuwait pada Kamis, 9 Juli 2026, menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang memasuki wilayah negaranya.

Melalui unggahan di platform X, staf khusus Angkatan Darat Kuwait menjelaskan suara ledakan yang terdengar berasal dari sistem pertahanan udara yang menghancurkan ancaman tersebut.

Pemerintah Kuwait tidak secara langsung menyebut pihak yang melancarkan serangan.

Namun sebelumnya IRGC memang telah memasukkan pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait sebagai salah satu target operasi balasan mereka.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu, 8 Juli 2026.

Trump mengatakan Amerika Serikat tidak menginginkan perang berkepanjangan, namun siap memberikan respons besar apabila Iran kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengumumkan berakhirnya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.

Ia bahkan melontarkan pernyataan bernada keras kepada para pemimpin Iran.

"Saya pikir itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Mereka sampah, mereka orang-orang sakit, mereka dipimpin oleh orang-orang sakit jiwa, dan mereka orang-orang yang kejam dan brutal," katanya.

"Dan jika mereka memiliki senjata nuklir, mereka akan menggunakannya," sambung dia.

Trump juga menuduh Iran telah berulang kali menyimpang dari isi kesepakatan yang sebelumnya telah dicapai.

"Semua orang setuju, tidak ada senjata nuklir. Kita membuat kesepakatan. Mereka keluar, bicara kepada pers, mereka lalu mengatakan bahwa kita bahkan tidak pernah membicarakannya. Ada yang salah dengan mereka, mereka itu tidak waras. Bagi saya, ini sudah berakhir," tuturnya dengan nada emosi.

Senada dengan Trump, Wakil Presiden Amerika Serikat James David (JD) Vance menyatakan Washington siap mengambil langkah yang lebih tegas apabila Iran mencoba menutup Selat Hormuz.

Menurut JD Vance, Amerika Serikat ingin memastikan jalur distribusi minyak dan gas dunia tetap terbuka.

Ia menegaskan bahwa setiap upaya penutupan Selat Hormuz akan dibalas dengan respons militer dari Amerika Serikat.

Sementara itu, dilansir CBS News dan Euro News, Kepala Staf sekaligus Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, memastikan pasukan Republik Islam siap menghadapi segala kemungkinan.

Ia menegaskan wilayah pesisir Iran akan menjadi "neraka" bagi pasukan Amerika Serikat apabila memutuskan melakukan pendaratan militer.

Menurut Sayyari, kekuatan militer Iran, kepolisian, dan pasukan paramiliter IRGC berada dalam kondisi siap tempur sehingga musuh tidak akan mudah mengambil langkah invasi.

"Musuh menyadari bahwa upaya apa pun untuk mendaratkan pasukan di pesisir Iran sama saja dengan memasuki neraka dunia yang tidak memiliki jalan keluar," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi ancaman dari pihak mana pun.

"Respons kami jelas, jika kalian punya nyali, silahkan datang," tegas Sayyari dikutip dari IRNA.