Kembali Saling Serang, Konflik AS vs Iran Berujung Perang Skala Besar? Teheran: Kami Tidak Akan Tunduk!
- Istimewa
Siap –Ketegangan di Timur Tengah berada di titik kritis setelah Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan udara masif ke wilayah Iran pada Rabu (8/7/2026).
Langkah agresif ini diambil setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz menandai berakhirnya gencatan senjata yang rapuh.
Dikutip dari Aljazeera, Kamis (9/7/2026), situasi kian memanas setelah Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Amerika Serikat yang berada di Bahrain dan Kuwait.
Langkah berani Teheran ini merupakan respons langsung dari tindakan Washington yang membombardir sejumlah kota di Iran secara beruntun.
Ledakan dahsyat pun dilaporkan terjadi di sejumlah kota Iran yang berada di sepanjang Selat Hormuz, termasuk Bushehr, Chabahar, Bandar Abbas, Sirik, Jask, dan Pulau Abu Musa.
Di wilayah Bushehr, kekhawatiran global memuncak mengingat kota pelabuhan tersebut merupakan tempat kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran berada.
Selain itu, otoritas setempat melaporkan sedikitnya satu orang dilaporkan tewas dalam serangan di Iranshahr.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk pembalasan atas dugaan aksi Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Serangan beruntun ini memicu kekhawatiran bahwa perang Iran dapat berkobar lagi.
Aksi ini terjadi hanya sehari setelah militer AS menggempur sejumlah situs militer dan fasilitas pelabuhan, menyusul serangan Iran terhadap beberapa kapal dagang di lepas pantai Oman.
Dalam unggahan di media sosial pada Rabu, para pejabat militer mengatakan serangan terbaru itu ditujukan untuk lebih jauh melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan urat nadi energi global; sebelum perang dimulai lewat serangan AS dan Israel pada 28 Februari, seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia melewati jalur tersebut.
Media pemerintah Iran seperti dikutip Associated Press juga mengonfirmasi kerusakan meluas di kota-kota pelabuhan selatan seperti Konarak dan Sirik.
Setelah meninggalkan KTT NATO di Ankara, Turki, Trump mengunggah beberapa video di platform media sosial miliknya yang ia sebut memperlihatkan ledakan di Iran.