GREAT Institute Menyarankan Presiden Prabowo Menghadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

Poto bersama usai acara FGD GREAT Institute
Sumber :
  • Istimewa

SiapKonflik antara Amerika Serikat dan Iran telah membuka babak baru dalam dinamika geopolitik global.

img_title Trump Klaim Kepung Iran dari Laut dan Udara, Benarkah Teheran Mulai Terdesak?

Selain mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, perang tersebut juga memberikan berbagai pelajaran strategis mengenai ketahanan nasional, diplomasi, keamanan energi, hingga arah kebijakan luar negeri negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peran Indonesia Pasca Perang Amerika–Iran” yang diselenggarakan GREAT Institute pada Selasa (7/7).

img_title Sentilan Keras JD Vance Bongkar Siasat Oknum Israel Demi Perang Abadi, "Pergi ke Neraka"?

Diskusi menghadirkan akademisi, pakar geopolitik, diplomat, ekonom, peneliti, dan tokoh masyarakat untuk membahas implikasi konflik tersebut terhadap kepentingan nasional Indonesia.

Diskusi menilai persaingan antarnegara besar tidak lagi hanya berlangsung melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui perang informasi, siber, ekonomi, diplomasi, teknologi, hingga perebutan pengaruh di kawasan strategis.

img_title Trump "Menggila" Jantung Pertahanan Iran Digempur Total? AS Siapkan 50 Ribu Pasukan dan Armada Tempur?

Dalam situasi seperti ini, Indonesia dituntut memiliki strategi nasional yang lebih matang agar tidak hanya menjadi objek dari dinamika global, melainkan mampu menjadi aktor yang turut memengaruhi arah perkembangan kawasan.

Salah satu kesimpulan utama FGD adalah pentingnya Indonesia merumuskan kembali kepentingan nasional (national interest) secara lebih jelas sebagai dasar penyusunan kebijakan luar negeri.

Tanpa definisi yang tegas mengenai kepentingan nasional, diplomasi Indonesia akan cenderung bersifat reaktif dan kehilangan arah ketika menghadapi berbagai krisis internasional.

Forum juga menyoroti bahwa Indonesia memiliki modal strategis yang besar untuk memainkan peran lebih aktif di panggung internasional.

Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, anggota G20, ASEAN, BRICS, dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Indonesia memiliki legitimasi politik sekaligus posisi geografis yang memungkinkan untuk menjadi jembatan komunikasi (bridge builder) di tengah meningkatnya rivalitas global.

Namun, potensi tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal dalam berbagai konflik internasional, termasuk pasca perang Amerika–Iran. Diskusi juga menekankan bahwa pengalaman Iran memberikan sejumlah pelajaran penting bagi Indonesia mengenai arti ketahanan nasional.

Kemampuan Iran bertahan menghadapi embargo dan tekanan internasional selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kapasitas militernya, tetapi juga oleh kemampuan membangun kemandirian di bidang ekonomi, teknologi, energi, industri pertahanan, serta kohesi sosial dan nasionalisme masyarakatnya.

Halaman Selanjutnya
img_title