Berkaca dari Perang Iran, Prabowo Borong Rudal Supersonik yang Sulit Dicegat Musuh, Ini Speknya!
- Istimewa
Siap – Ketegangan militer yang terjadi antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah memicu perubahan yang cukup drastis di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Banyak negara berlomba-lomba untuk memperkuat sistem persenjataan.
Konflik antara Iran vs AS dan Israel nampaknya benar-benar mengajarkan tentang pentingnya sistem pertahanan tingkat tinggi.
Perang yang berlangsung di kawasan Timur Tengah itu telah memperlihatkan bagaimana kecanggihan teknologi menjadi modal dasar dalam mempertahankan kedaulatan sebuah negara.
Tampaknya hal ini pula-lah yang menjadi dasar Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo untuk terus meningkatkan kemampuan tempur dalam negeri.
Bahkan, baru-baru ini Prabowo dikabarkan telah memesan rudal supersonik yang dirancang oleh India dan Rusia.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Indonesia dilaporkan resmi menyepakati pembelian sistem rudal jarak jauh bernama Brahmos dari India.
Momen itu terjadi saat kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta, kemarin.
Langkah berani Presiden Prabowo Subianto ini langsung menjadi sorotan dunia karena memboyong salah satu rudal tercepat di muka bumi.
Senjata mematikan ini disebut-sebut membuat sistem pertahanan musuh nyaris mustahil untuk mencegatnya.
Kehadiran Brahmos akan memperkuat pertahanan maritim dan menjadi pembawa perubahan besar bagi militer RI.
Lantas sekencang apa kemampuan Rudal Brahmos menghancurkan target di darat maupun laut? Berikut ulasan selengkapnya.
Rudal Brahmos yang akan dibeli Presiden Indonesia Prabowo Subianto
- Istimewa
Berdasarkan dokumen teknis dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Brahmos merupakan proyek rudal jelajah bersama.
Senjata mematikan ini dikembangkan organisasi penelitian India dan perusahaan Masinostroenie Rusia sejak 1998.
Nama Brahmos diambil dari gabungan nama dua sungai, yaitu sungai Brahmaputra di India dan Sungai Moskva di Rusia.
Sistem penggerak rudal ini bekerja dalam dua tahap pendorongan.
Tahap pertama menggunakan motor rokoket berbahan bakar padat untuk mencapai kecepatan supersonik.
Tahap kedua dilanjutkan oleh mesin RAMJET berbahan bakar cair untuk mempertahankan kecepatan tinggi tersebut.
Proses ini menjaga performa rudal sepanjang fase jelajah menuju sasaran.
Menurut data resmi dari produsen Brahmos Aerospace varian ekspor Indonesia memiliki spesifikasi fisik yang masif.
Panjangnya sekitar 8 meter dengan diameter badan mencapai 70 cm.
Berat peluncurannya berkisar antara 2.200 hingga 3.000 kg tergantung jenis platform yang digunakan.
Rudal ini juga dirancang mampu membawa hulu ledak konvensional seberat 200 hingga 300 kg.
Karakteristik utama yang menonjol dari senjata ini adalah kemampuannya untuk terbang rendah.
Rudal menggunakan teknik scaming di atas permukaan laut guna menghindari deteksi radar lawan.
Selain itu, Brahmos dilengkapi dengan teknologi siluman. Sistem navigasi inersia dan konektivitas satelit.
Pada fase akhir penerbangan, pelacak radar aktif akan bekerja untuk memastikan akurasi tembakan.
Kombinasi teknologi ini membuat rudal melesat stabil pada kecepatan Mah 2,8 hingga MA 3.
Melalui laporan komparatif, performa kecepatan Brahmos berada di kasta tertinggi.
Sebagai perbandingan, rudal Tomahawk buatan AS dan Storm Shadow buatan Eropa bergerak lebih lambat.
Kedua rudal bara tersebut beroperasi pada kecepatan subsonik atau di bawah kecepatan suara yaitu sekitar Mah 0,8.
Meskipun Tomahawk memiliki jangkauan serang lebih jauh hingga 1600 km, kecepatannya memberikan waktu reaksi bagi lawan.
Sistem pertahanan udara musuh memiliki waktu lebih lama untuk mendeteksi dan mencegatnya.
Sementara itu, rudal jelajah YJ18 milik Cina juga bergerak dengan kecepatan subsonik di awal penerbangan.
Rudal China ini baru berakselerasi mencapai Mah 3 pada fase akhir saat mendekati sasaran.
Untuk varian ekspor, Brahmos dibatasi memiliki daya jangkau sepanjang 290 km demi mematuhi aturan internasional.
Mengenai implementasi taktisnya, Cofounder Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi memberikan analisisnya.
Kehadiran Rudal Brahmos membawa perbedaan kemampuan yang signifikan bagi pertahanan maritim Indonesia.
Arsenal antikapal yang saat ini dimiliki TNI mayoritas masih berada dalam kategori subsonic.
Rudal Exoket Prancis serta rudal C802 dan C705 Cina memiliki kecepatan jelajah sekitar maah 0,9.
Jarak jangkau maksimal dari ketiga rudal tersebut berada di angka 180 km.
Khairul Fahmi menjelaskan kecepatan tinggi Brahmos otomatis memotong waktu reaksi sistem pertahanan udara musuh.
Musuh akan sangat sulit mendeteksi, melacak, dan mencegat rudal sebelum menghantam target.
Selain itu, kecepatan Mah 3 menghasilkan energi kinetik yang sangat besar saat benturan terjadi.
Benturan fisik dari badan rudal saja tetap mampu menimbulkan kerusakan serius pada kapal perang lawan.
Sistem peluncur Brahmos yang bersifat mobile menggunakan kendaraan truk juga sangat menguntungkan.
Peluncur ini fleksibel untuk ditempatkan di titik-titik geografis strategis Indonesia.
Lokasi penempatan bisa difokuskan di Pulau Natuna, Selat Malaka, Selat Sunda, atau kawasan Alki.
Skema ini diproyeksikan untuk membangun kemampuan pertahanan pantai yang kuat demi menjaga kedaulatan wilayah perairan nasional.
Kabar pengadaan alat utama sistem persenjataan ini bermula dari laporan kantor berita AFP.
Kesepakatan kerja sama sistem Brahmos tersebut lahir dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo dan Perdana Menteri India Narendra Modi pada 7 Juli 2026 di Jakarta.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randir Jiswall juga telah mengonfirmasi kabar ini secara resmi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan, Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait membenarkan adanya kerja sama ini.
Menurut dia, strategi ini diambil untuk mendukung kemampuan pertahanan pesisir maritim Indonesia.
Namun, pihak Kementerian Pertahanan menegaskan rincian jumlah unit, nilai kontrak, maupun spesifikasi teknis pengadaan bersifat rahasia.
Sebelum Indonesia, Filipina juga telah lebih dulu menjadi operator pertama di Asia Tenggara yang membeli sistem rudal tersebut.
Iran Sebut Indonesia Kawan Baik
Mantan perwira tinggi Republik Islam Iran, Brigadir Jenderal Esmail Ahmadi Moghaddam, ikut angkat bicara soal ketidak hadiran perwakilan Indonesia dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Ia menegaskan, bahwa Iran tidak mempermasalahkan absennya perwakilan atau delegasi Indonesia pada prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran.
Moghaddam bahkan memastikan, bahwa Indonesia dan jutaan umat Muslimnya adalah sahabat dekat Iran, sehingga ketidakhadiran fisik pada rangkaian awal prosesi tidak akan merusak hubungan baik kedua negara.
“Asia Tenggara dan Indonesia merupakan salah satu basis besar Islam. Kami telah dan terus menjalin hubungan yang sangat baik,” katanya pada Minggu, 5 Juli 2026.
Lebih lanjut mantan Kepala Kepolisian Iran yang kini memimpin Universitas Pertahanan Nasional di negara tersebut menyampaikan apresiasi kepada negara-negara yang hadir, namun memaklumi pihak yang berhalangan.
Dia juga menekankan bahwa Indonesia dan Asia Tenggara adalah basis besar Islam yang akan terus menjalin hubungan sangat baik dengan Teheran.
“Musuh-musuh kami adalah masalah yang berbeda. Indonesia termasuk di antara teman-teman kami pemerintahnya, dan terutama rakyatnya, yang terdiri dari jutaan Muslim yang setia kepada Iran dan Islam dan kami adalah teman bangsa tersebut. Adapun bagaimana kami bermaksud untuk maju di setiap bidang dan melawan musuh.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono memastikan, bahwa dirinya akan menghadiri langsung proses pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sugiono mengatakan, sebelumnya Indonesia juga telah mengirim perwakilan melalui Duta Besar (Dubes) RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat untuk menghadiri proses pemakaman tersebut.
"Jadi kita menerima pemberitahuan atau undangan mengenai acara tersebut dan pada saat itu kita juga sudah mengatakan, bahwa yang mewakili Pemerintah Indonesia adalah Duta Besar Indonesia yang ada di Iran, dengan berbagai pertimbangan teknis," katanya dikutip pada Selasa, 7 Juli 2026.
Sugiono menjelaskan, ada beberapa pertimbangan RI mengirim perwakilan Dubes pada acara tersebut.
"Karena pada saat itu juga di kita melakukan persiapan kunjungan-kunjungan kenegaraan di Indonesia, dan beberapa pejabat kunci juga memiliki kesibukan yang tidak memungkinkan untuk ke sana," terangnya.
"Kemudian kita mendapatkan konfirmasi bahwa pihak Iran hanya akan memberi akses kepada pejabat di atas Dubes pada tanggal 2 kalau saya tidak salah. Jadi kita juga tidak memiliki kesempatan untuk mengirimkan pengganti," sambung dia.
Setelah komunikasi secara intens dengan pihak Teheran, RI kemudian mendapat izin agar pejabat setingkat menteri untuk hadir.
"Kemudian setelah itu kita juga berkoordinasi, dan karena pemakaman itu akan dilaksanakan pada tanggal 9 atau hari Kamis, maka kita berencana akan hadir," janjinya.
"Saat ini kami masih menunggu jawaban waktu dan tempat di mana kita bisa menghadiri upacara pemakaman tersebut. Karena seperti kita ketahui juga, bahwa ada prosesi yang dilakukan terkait dengan rangkaian acara dari pemakaman tersebut."
Lebih lanjut Sugiono juga mengatakan, bahwa dirinya nanti akan didampingi Ketua MPR Ahmad Muzani.
Kedua politisi Gerindra itu diutus langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
"Rencananya yang akan berangkat Menteri Luar Negeri Republik Indonesia bersama bersama dengan Ketua MPR RI," ucapnya.
"Dari beberapa komunikasi yang terus kita lakukan bahwa karena penghormatan terhadap beliau sangat besar, kemudian massa juga sangat besar di sana. Pihak Iran masih mencoba untuk mencari titik atau spot yang tepat untuk menerima kunjungan kita," timpalnya lagi.