Makin Canggih, Rudal Jelajah Iran Bikin Amerika Sulit Kabur: Bombardir Israel Cuma Butuh 12 Menit
- Istimewa
Dalam pembahasan internal itu, kehadiran pasukan AS di kawasan Arab Saudi juga disebut berpotensi dikurangi.
Bahkan, dua pejabat yang mengetahui pemboman tersebut menyebut Israel masuk ke dalam daftar lokasi yang dipertimbangkan untuk menampung sebagian fasilitas militer Amerika Serikat.
Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai pemindahan tersebut.
Selain persoalan strategi, faktor biaya juga menjadi tantangan besar.
Wall Street Journal memperkirakan membangun kembali fasilitas yang rusak di pangkalan Bahrain saja dapat menelan biaya sekitar 400 juta dolar AS.
Anggaran sebesar itu hanya untuk pembangunan gedung, belum termasuk pembersihan puing, penguatan infrastruktur, maupun pemindahan sistem militer ke lokasi baru.
Lebih jauh lagi, Center First Strategic and International Stugies atau CSIS, memperkirakan total kerusakan pangkalan Amerika Serikat di kawasan mencapai 2,2 hingga 5,1 miliar dolar AS.
Bidikan Rudal Teheran Makin Jauh
Jika Amerika Serikat mempertimbangkan memindahkan pangkalan, pertanyaan utama adalah apakah lokasi baru benar-benar berada di luar jangkuan rudal Iran?
Dilansir Aljazeera, jawabannya tidak semudah itu.
Iran saat ini memiliki salah satu arsenal rudal paling besar dan paling beragam di Timur Tengah.
Persenjataan itu terdiri dari rudal balistik, rudal jelajah hingga drone serang yang dikembangkan selama bertahun-tahun.
Menurut para analis pertahanan, rudal balistik jarak menengah Iran memiliki jangkuan lebih dari 2.500 km.
Artinya hampir seluruh pusat kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah berada dalam cakupan jangkauan rudal tersebut.
Bahkan dengan jarak sekitar 2.000 km, sejumlah analis memperkirakan rudal Iran dapat mencapai Israel dalam waktu 12 menit, tergantung jenis rudal yang digunakan.
Ilustrasi serangan rudal Iran ke pangkalan Amerika Serikat
- Tangkapan layar YouTube Kompas
Keunggulan ini bukan hanya berada pada jarak tempuhnya.
Teheran juga memiliki pola operasi yang dirancang untuk menyulitkan sistem pertahanan lawan.
Rudal jarak pendek dapat ditembakkan beruntun untuk mempersempit waktu reaksi.
Sementara rudal jarak menengah digunakan menjangkau target yang lebih jauh di seluruh kawasan.
Pada saat yang sama, rudal jelajah dan drone diluncurkan secara bersamaan untuk membebani sistem pertahanan udara.
Analis menyebut taktik ini sebagai saturation attack.