Melongok Kolaborasi Sipir dan Napi Sulap 'Lahan Tidur' Lapas Surabaya Jadi Area Produktif
- Istimewa
Panen jagung manis di Lapas Surabaya ini diharapkan menjadi awal dari program berkelanjutan.
Selain itu, juga ada juga pertanian pepaya California sebanyak 1.000 pohon telah ditanam di lahan seluas 2 hektar.
“Lahan pepaya California ini ada di area dalam dan luar lapas. Harapannya 3 atau 4 bulan ke depan, InsyaAllah kita sudah bisa panen raya pepaya,” ungkapnya.
Program berikutnya perikanan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian, melatih warga binaan menjadi pembudidaya ikan yang terampil dan produktif selama masa hukuman.
“Budidaya ikan air tawar yang telah berjalan dan berhasil dikembangkan disini seperti gurami dan lele. Alhamdulillah ini berkat support dari Dinas Perikanan Sidoarjo. Saat ini sudah ada 14 bioflok.".
Sohibur memastikan hasil panen perdana ikan gurami mencapai 50 kg dan lele sebanyak 60 kg telah terserap di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gratis (SPPG).
Langkah ini merupakan bentuk dukungan penuh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
“Panen hasil perikanan, beberapa waktu lalu sudah dipasarkan untuk melengkapi menu MBG di wilayah sekitar lapas. Meski belum dalam skala besar, kegiatan perikanan berjalan rutin dan sudah beberapa kali menghasilkan panen,” ujar Sohibur.
Program selanjutnya, yakni peternakan unggas (Entok) yang seluruhnya dikerjakan warga binaan dengan mendapat pendampingan dan pengawasan petugas lapas.
“Proses mulai dari tahap perawatan anakan hingga pembesaran indukan selalu didampingi petugas. Alhamdulillah telur yang dihasilkan juga sudah banyak dan terserap pasar,” ucapnya.
Sohibur menegaskan, program ketahanan pangan di Lapas Porong diharapkan terus berkembang menjadi model pembinaan berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembentukan kemandirian dan harapan baru bagi warga binaan.
“Program ini Selaras dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun demikian, Ini bukan semata bicara tentang pangan, tetapi juga tentang masa depan mereka. Ada keterampilan yang bisa menjadi bekal hidup setelah bebas,” tuntasnya.