Perang Jilid 3, Israel Siapkan 'Operasi Biru Putih' untuk Bombardir Iran, Nyawa Mojtaba Khamenei Jadi Target Utama?
- Istimewa
Siap –Ketegangan di Timur Tengah kembali berada di titik nadir.
Menteri Pertahanan Israel, Katz, secara blak-blakan menyatakan bahwa pihak Tel Aviv telah memasukkan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, ke dalam daftar target pembunuhan mereka.
"(Mojtaba) sudah ditandai untuk dibunuh," ujar Katz seperti dikutip dari Fox News.
Pernyataan berani ini memicu kekhawatiran global akan pecahnya konflik skala penuh.
Tel Aviv menegaskan tidak menutup kemungkinan bagi pasukannya untuk kembali memulai serangan militer langsung ke jantung Iran, tergantung pada beberapa kondisi spesifik.
Katz menegaskan bahwa perang akan berlanjut apabila Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan proses negosiasi "sudah berakhir" dan memilih melanjutkan opsi serangan.
Selain faktor sekutu, skenario serangan Israel juga sangat bergantung pada pergerakan Teheran sendiri.
Kondisi kedua, menurut Katz, adalah jika "Iran menyerang kami."
Ancaman ini tidak main-main. Israel bahkan telah menetapkan batas waktu respons yang sangat singkat.
Katz mengatakan Israel akan menyerang Iran "dalam dua hari" jika Irak yang dikenal sebagai proksi Iran menembakkan rudal ke wilayah Tel Aviv.
"Jika Iran menyerang, akan ada perang ketiga. Situasinya amat jelas," tegas Katz.
Ia melanjutkan bahwa Israel tidak akan pernah membiarkan rudal Iran yang menyerang dibiarkan begitu saja tanpa ada balasan.
"Itu akan terjadi hanya dalam dua hari. Perintah saya kepada IDF (militer Israel) agar mempersiapkan operasi biru-putih."
Operasi "Biru-Putih" merujuk pada warna bendera Israel, sebuah kode yang mengindikasikan mobilisasi militer skala besar untuk mempertahankan kedaulatan negara.
Pengamat menilai ketegangan ini dipicu oleh kekosongan diplomasi dan kekhawatiran Israel terhadap kapabilitas nuklir Iran yang terus berkembang belakangan ini.
Di sisi lain, keberadaan Mojtaba Khamenei hingga saat ini masih misterius.
Sejak diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, ia belum pernah sekalipun muncul ke publik.
Mojtaba, yang memiliki rekam jejak panjang dan banyak berpengalaman di dunia intelijen, memang dikenal bergerak di balik layar.
Karakternya ini sangat berbeda dengan mendiang Ali Khamenei yang semasa hidupnya kerap muncul memberikan pidato publik Absennya Mojtaba dari hadapan publik memicu spekulasi tinggi mengenai strategi keamanan ketat yang sedang diterapkan Teheran demi melindunginya dari radar IDF.