Laporan Terbaru Ungkap Dampak Besar dari Serangan Iran, Amerika Serikat Terdesak?
- siap.viva/AI
Padahal, jauh sebelum konflik memanas, sejumlah pejabat pertahanan Amerika Serikat telah mengingatkan pentingnya memindahkan sebagian instalasi militer ke lokasi yang berada di luar jangkauan rudal Iran.
Meski demikian, rencana tersebut hingga kini belum sepenuhnya direalisasikan.
AS Mulai Evaluasi Strategi Militer
Dampak serangan tersebut disebut mendorong Pentagon meninjau kembali seluruh strategi militernya di Timur Tengah.
Sejumlah pejabat yang mengetahui pembahasan internal menyebut Amerika Serikat sedang mempertimbangkan restrukturisasi besar terhadap penempatan pasukan maupun fasilitas militernya.
Salah satu opsi yang dikaji ialah mengurangi kehadiran militer di Kuwait dan Arab Saudi.
Sekaligus memindahkan sebagian fungsi pangkalan ke wilayah yang dinilai lebih aman dari ancaman rudal maupun drone Iran.
Beberapa fasilitas yang rusak bahkan disebut kemungkinan tidak akan dibangun kembali.
Sebagai gantinya, pusat komando dapat dipindahkan ke instalasi bawah tanah, sementara penempatan pasukan akan dibuat lebih tersebar guna mengurangi risiko kerusakan apabila terjadi serangan serupa.
Menurut laporan WSJ, Israel juga masuk dalam daftar wilayah yang dipertimbangkan sebagai lokasi pengembangan fasilitas militer Amerika Serikat di masa mendatang.
Selain aspek strategi, biaya konflik juga menjadi perhatian serius.
Sebelum menghitung kerusakan berbagai pangkalan, Pentagon memperkirakan biaya operasi militer telah mencapai sekitar 29 miliar dolar AS.
Angka tersebut belum termasuk estimasi biaya pemulihan fasilitas yang rusak di Bahrain, yang diperkirakan mencapai sekitar 400 juta dolar AS.
Sementara itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan total biaya perang dapat menyentuh sekitar 40 miliar dolar AS.
Termasuk miliaran dolar untuk memperbaiki berbagai fasilitas militer Amerika Serikat yang terdampak di kawasan Timur Tengah.
Konflik Belum Mereda
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut meski upaya diplomasi masih berlangsung.
Ketika Washington kembali melancarkan operasi militer di sekitar Selat Hormuz, Iran merespons dengan meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain maupun Kuwait.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas operasi tersebut.
Pemerintah Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan tanpa menimbulkan korban jiwa.