Konflik AS-Iran Kembali Membara, IRGC: Itu adalah Sifat Dasar Amerika, Ingkar Janji?
- Istimewa
Siap –Situasi di kawasan Teluk kembali memanas setelah kesepakatan perdamaian sementara yang baru berumur jagung resmi pecah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terbuka mengatakan mengingkari janji sudah menjadi sifat dasar Amerika Serikat (AS).
Pernyataan ini disampaikan pada hari Minggu, menyusul serangan baru Amerika terhadap infrastruktur pesisir Republik Islam tersebut.
Ketegangan ini menandai eskalasi militer langsung yang mengkhawatirkan di koridor energi global.
Iran dan AS saling melancarkan serangan sejak hari Jumat, menandai pecahnya konflik untuk pertama kalinya sejak kedua pihak menandatangani kesepakatan perdamaian sementara pada 17 Juni.
Saling serang berlanjut hingga Minggu pagi, memicu kekhawatiran akan terjadinya perang skala luas.
Baik Teheran maupun Washington saling menuduh satu sama lain sebagai pihak yang melanggar kesepakatan tersebut.
Pihak Iran menilai AS sengaja mencari alasan untuk memicu konfrontasi bersenjata demi keuntungan geopolitik mereka di Timur Tengah.
“Sifat dasar musuh agresor adalah melanggar perjanjian dan mengingkari janji,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan yang dikutip Fars News Agency, Senin (29/6/2026).
"AS menyerang fasilitas Iran pada Minggu pagi dengan menggunakan dalih konfrontasi Angkatan Laut IRGC dengan kapal yang melanggar aturan,” imbuh IRGC.
Sebagai respons, kata IRGC, pasukan Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke pangkalan AS di kawasan Teluk pada Minggu pagi.
Serangan itu menghancurkan delapan instalasi militer di pangkalan Ali Al-Salem di Kuwait dan markas besar Angkatan Laut Armada Kelima di Bahrain.
IRGC memperingatkan akan ada respons yang menghancurkan terhadap serangan baru apa pun terhadap Iran.
Masih menurut IRGC, menurut Nota Kesepahaman (MoU) AS-Iran, Iran harus membuat pengaturan untuk mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz, memperingatkan hukuman yang lebih berat untuk kapal yang melanggar.
Namun, perbedaan persepsi mengenai aturan di jalur laut paling penting di dunia ini menjadi batu sandungan utama kedua negara.
AS dan Iran telah menawarkan interpretasi yang berbeda tentang kesepakatan sementara tersebut.
Teheran bersikeras bahwa setiap kapal yang melewati jalur perairan utama itu harus mendapatkan izin dari otoritas Iran dan hanya menggunakan rute yang ditentukan oleh mereka, sementara Washington menuntut agar Iran memberikan akses tanpa hambatan dan tidak memungut biaya.