Ketegangan Pecah Lagi, Konflik AS dan Iran Masuk Fase Paling Berbahaya?
- Istimewa
Di sisi lain, Teheran menilai serangan udara Amerika ke wilayah pesisir Iran sebagai bentuk agresi militer yang melanggar kesepakatan damai.
IRGC juga menegaskan bahwa mereka memiliki hak untuk mempertahankan keamanan dan mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz sesuai dengan yurisdiksi yang mereka klaim.
Krisis Selat Hormuz
Rangkaian aksi saling serang tersebut memicu kepanikan di sektor pelayaran internasional.
Perusahaan-perusahaan logistik laut kini menghadapi dilema besar.
Mengikuti jalur pelayaran yang direkomendasikan Oman dan didukung Amerika Serikat berisiko menjadi sasaran serangan IRGC.
Sebaliknya, apabila mengikuti rute yang ditetapkan Iran, mereka berpotensi menghadapi sanksi ekonomi dari Pemerintah Amerika Serikat.
Ketidakpastian di salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia itu juga mendorong kenaikan harga minyak mentah di pasar global.
Mengutip laporan Tasnim News, IRGC pada Minggu, 28 Juni 2026, mengumumkan telah melaksanakan operasi besar-besaran menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Dalam pernyataan resminya, IRGC menyebut Angkatan Laut dan Angkatan Dirgantara Iran melaksanakan operasi gabungan tersebut sebagai respons atas agresi terbaru Amerika Serikat.
Serangan berlangsung antara pukul 02.00 hingga 03.00 waktu setempat.
IRGC mengklaim operasi tersebut berhasil menghancurkan delapan fasilitas strategis milik militer Amerika Serikat, termasuk Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait serta markas Armada Kelima AS di Port Salman, Bahrain.
"Musuh harus mengetahui bahwa pelanggaran gencatan senjata bertentangan dengan Pasal 1 MoU Islamabad dan akan mengakibatkan penghentian total proses-proses yang terkait dengan MoU tersebut," demikian pernyataan IRGC.