Ketegangan Pecah Lagi, Konflik AS dan Iran Masuk Fase Paling Berbahaya?

Ilustrasi perang Iran dan Amerika Serikat.
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran kembali memanas setelah rentetan aksi militer di kawasan Teluk memicu kekhawatiran runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang baru berlaku beberapa hari lalu.

img_title Tak Sudi Diatur AS dan NATO, Iran: Kami Akan Terus Menempuh Jalur Nuklir

Situasi tersebut meningkatkan risiko pecahnya kembali konflik bersenjata antara kedua negara.

Kesepakatan penghentian perang yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 kini berada di ujung tanduk setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.

img_title Washington Serba Salah, Iran Punya Cara Membuat Armada AS Terus Mengeluarkan Biaya

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden bermula ketika otoritas Iran melalui PGSA mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal kargo internasional berbendera Singapura agar mengikuti jalur pelayaran yang telah ditetapkan Teheran saat melintasi Selat Hormuz demi alasan keamanan.

Namun, kapal kargo tersebut dilaporkan tidak mengikuti arahan tersebut.

img_title 6 Veteran Garis Keras Iran Pimpin Pertempuran, Strategi Teheran Bikin AS Berantakan

Tak lama kemudian, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diduga melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) terhadap kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, di sekitar Selat Hormuz pada Kamis, 25 Juni 2026.

Aksi itu segera memicu respons dari Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).

Sehari berselang, Jumat, 26 Juni 2026, militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran.

Dalam operasi tersebut, pesawat tempur Amerika menghantam fasilitas radar di kawasan pesisir serta lokasi penyimpanan rudal dan drone milik Iran.

Pemerintah Washington menyatakan serangan itu merupakan langkah defensif setelah menuding IRGC menyerang kapal dagang berbendera Singapura yang sedang melintas di Selat Hormuz.

Iran tidak tinggal diam. IRGC kemudian melancarkan serangan balasan yang menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa operasi tersebut ditujukan ke instalasi militer AS sebagai peringatan bahwa setiap tindakan militer dari Washington akan dibalas dengan respons yang lebih besar.

Presiden AS Donald Trump mengecam keras tindakan Iran dan menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Senada dengan itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, melalui akun media sosial X menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap mematuhi nota kesepahaman (MoU), namun memperingatkan bahwa setiap aksi kekerasan akan dibalas jika Iran terus melakukan provokasi.

Halaman Selanjutnya
img_title