Iran dan Amerika Kembali Saling Serang, IRGC Klaim Hancurkan 8 Aset Penting AS Pagi Ini
- Tangkapan layar YouTube Kompas
Siap – Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Islam Iran terancam batal total setelah kedua negara kembali terlibat aksi saling serang di wilayah Teluk sejak Jumat, 26 Juni 2026.
Eskalasi militer ini melanggar nota kesepahaman (MoU) penghentian perang yang baru saja mereka sepakati pada 17 Juni 2026.
Data yang dihimpun menyebutkan, aksi saling serang ini dipicu Otoritas Iran (PGSA) yang memperingatkan kapal kargo internasional berbendara Singapura agar mematuhi rute transit ketat yang ditentukan Teheran di Selat Hormuz jika ingin mendapatkan jaminan keamanan.
Bukannya patuh, rupanya kapal tersebut tak mengindahkan ancaman tersebut.
Akhirnya Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC diduga kuat meluncurkan serangan drone terhadap kapal kargo komersial berbendera Singapura bernama Ever Lovely di dekat Selat Hormuz pada Kamis, 25 Juni 2026.
Iran tembak kapal kargo di kawasan Selat Hormuz
- Istimewa
Tindakan tersebut langsung direspon Komando Pusat AS (CENTCOM). Mereka meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran pada Jumat, 26 Juni 2026.
Pesawat militer AS membombardir fasilitas radar pesisir serta situs penyimpanan rudal dan drone milik Republik Islam.
Washingtong mengeklaim, tindakan ini sebagai respons defensif setelah IRGC dituduh menyerang sebuah kapal kargo komersial berbendera Singapura yang sedang melintasi Selat Hormuz.
Tak tinggal diam, IRGC langsung membalas dengan menggempur sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Stasiun televisi pemerintah setempat melaporkan serangan balasan ini menyasar instalasi militer Amerika sebagai peringatan bahwa setiap agresi AS akan direspons secara lebih luas.
Presiden AS Donald Trump mengecam keras tindakan Teheran dan menyebutnya sebagai "pelanggaran bodoh" terhadap perjanjian gencatan senjata.
Wakil Presiden AS, JD Vance, juga mengeluarkan peringatan keras melalui media sosial X bahwa Amerika mematuhi MoU, tetapi "kekerasan akan dibalas dengan kekerasan" jika Teheran terus melanjutkan provokasi.
Sementara itu, Teheran menganggap serangan udara AS di wilayah pesisir mereka sebagai bentuk agresi militer nyata yang mencederai kesepakatan damai.
IRGC menegaskan mereka memiliki hak penuh untuk membalas dan mengamankan jalur Selat Hormuz sesuai yurisdiksi mereka.
Petaka Selat Hormuz
Akibat aksi saling balas ini memicu kepanikan besar pada sektor pelayaran internasional.