Negosiasi Alot, Waspres AS Bujuk Iran: Bisakah Kita Membuka Lembaran Baru?
- Istimewa
Siap – Ketegangan antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat belum sepenuhnya berakhir. Upaya perundingan antara dua negara itu kembali menemukan titik buntu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak akan melepaskan hak untuk melakukan pengayaan uranium.
Pernyataan ini disampaikan di tengah dimulainya kembali negosiasi nuklir antara Teheran dan Washington di Swiss pada Minggu, 21 Juni 2026.
Masoud Pezeshkian juga menegaskan, bahwa negaranya tidak akan pernah tunduk pada tekanan maupun intimidasi dari pihak manapun.
Dikutip dari kanal YouTube Metro tv, Pezeshkian menyatakan, bahwa hak Republik Islam untuk melakukan pengayaan uranium tidak dapat ditawar.
Menurutnya Amerika Serikat harus menerima posisi ini sebagai bagian dari realitas dalam perundingan yang sedang berlangsung.
JD Vance ingatkan Iran serius
- Siap.viva/AP Photo/Julia Demaree Nikhinson
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan, agar kedua negara bisa membuka lembaran baru demi mengubah hubungan di Timur Tengah secara permanen.
Ia mengklaim bahwa pembukaan Selat Hormuz, dan akhir dari program nuklir Iran semuanya telah tercapai.
"Pertanyaan di hadapan kita sekarang adalah berapa banyak lagi yang dapat kita capai bersama? Bisakah kita membuka lembaran baru? Bisakah kita mengubah hubungan di Timur Tengah secara permanen?" katanya.
"Atau apakah kita kembali melakukan hal-hal dengan cara lama yang bukan preferensi kita, tetapi tentu saja merupakan sesuatu yang bisa terjadi," sambungnya.
Menurut Vance, pertemuan ini adalah sejarah baru bagi Amerika maupun Republik Islam.
"Belum pernah sebelumnya kepemimpinan Iran dan Amerika bertemu pada tingkat setinggi itu."
Vance mengungkapkan, harapan membuka lembaran baru juga disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump.
"Dan apa yang diminta presiden untuk kita lakukan adalah membuka lembaran baru untuk mengubah hubungan kita dengan rakyat Iran," tuturnya.
Ia juga mengatakan, bahwa AS siap mengulurkan tangan jika Republik Islam tersebut bersedia melepaskan ambisi senjata nuklir untuk jangka panjang.
"Amerika Serikat bersedia mengubah hubungan dengan negara itu secara mendasar," ucapnya.
"Itu tentu saja tujuan kami kami telah membuat kemajuan besar hanya dalam beberapa jam terakhir dan saya berharap kami akan membuat kemajuan tambahan dalam beberapa jam datang," sambung dia.