Kesepakatan Damai AS-Iran Berujung Ketegangan Baru dengan Israel
Siap – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendapat pembelaan langsung dari Wakil Presiden AS, James David (JD) Vance, setelah sejumlah menteri Israel melontarkan kritik keras terhadap keputusan Washington mengakhiri perang dengan Iran.
Wakil Presiden Amerika Serikat, James David Vance, melontarkan pernyataan tegas kepada pemerintah Israel yang dinilai terus menyudutkan Washington dalam isu perdamaian dengan Iran.
Sosok yang akrab disapa JD Vance itu mengaku kecewa karena sejumlah anggota kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka menyerang kebijakan Presiden Donald Trump, terutama setelah Amerika Serikat memutuskan mengakhiri konflik dengan Iran.
"Aku sudah lihat laporan media (Axios), bahwa kabinetnya itu sedang marah-marah. Itu tak mencerminkan percakapan yang pernah kualami dengannya (Netanyahu). Tapi mungkin dia mengatakan sesuatu pada orang lain yang tidak dia katakan padaku," katanya.
JD Vance mengaku terganggu dengan berbagai pernyataan keras yang dilontarkan para menteri Israel terhadap pemerintahan Trump.
"Ini memang menggangguku. Kalian pernah melihat orang-orang di dalam kabinet Bibi (Netanyahu) yang berbicara dan menyerang kesepakatan itu, dan dalam beberapa hal sangat menyerang pribadi Presiden AS," tuturnya.
Merespons situasi tersebut, Vance menyampaikan dua pesan penting kepada kabinet Netanyahu.
"Nomor satu, Donald Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati pada bangsa Israel saat ini, dan ia adalah kepala negara dari negara super power dunia," tegasnya.
"Jika aku berada di kabinet pemerintah Israel, aku mungkin tak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang kumiliki. Di manapun yang tersisa di seluruh dunia."
Dalam pesan keduanya, Vance menilai para menteri Israel mengabaikan fakta mengenai besarnya dukungan Amerika Serikat terhadap keamanan negara tersebut.
"Yang ingin kukatakan adalah, bahwa selama 3 bulan terakhir 2/3 dari senjata pertahanan yang telah melindungi tanah air kalian (Israel) telah dibangun oleh tangan Amerika, dan dibayar oleh pajak USD warga Amerika," tegasnya.
Ia pun mengingatkan agar pemerintah Israel tidak lagi menjadikan Amerika Serikat sebagai pihak yang dipersalahkan.
"Yang menjadi masalah bagi Israel bukanlah Donald Trump dan siapapun. Warga Israel yang menganggap masalah terbesar mereka adalah Presiden AS harus bangun dan sadari realitas yang sedang dihadapi negara itu saat ini," ucapnya.