AS-Iran Resmi Teken Perjanjian Damai, Netanyahu Jadi Bahan Olok olokan Media Israel, Rencana Gagal Total?
- Istimewa
Siap –Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah resmi menandatangani dokumen kesepakatan mengakhiri perang pada Rabu, 17 Juni 2026.
Langkah bersejarah ini menjadi titik balik penting yang diharapkan mampu meredakan tensi panas berdarah dan memulihkan stabilitas geopolitik serta ekonomi di kawasan Timur Tengah.
Dokumen tersebut memuat komitmen penting dari Teheran untuk memangkas kandungan uranium yang diperkaya yang akan dibalas dengan kucuran bantuan ekonomi berskala besar dari Washington.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, seorang pejabat AS kepada EFP membeberkan Trump menandatangani nota kesepahaman tersebut di sela-sela makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles usai menghadiri konferensi tingkat tinggi G7.
Kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 oleh AS dan Israel.
Melansir Al Jazeera, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei juga telah mengonfirmasi nota kesepahaman dengan AS telah ditandatangani secara elektronik.
Pernyataan itu disampaikan Baghaei lewat siaran di televisi pemerintah Iran Press TV. Ia mengatakan, setelah ditandatangani kini saatnya menguji implementasi kesepakatan itu.
Konfirmasi juga datang dari Gedung Putih yang memastikan Trump telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang terhadap Republik Islam Iran.
Sebelumnya kesepakatan itu dijadwalkan ditandatangani oleh kepala negosiator sekaligus Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf dan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance.
Namun Republik Islam kemudian menyatakan upacara tatap muka tidak lagi diperlukan.
Penandatanganan kesepakatan bersejarah ini resmi membuka periode negosiasi lanjutan selama 2 bulan ke depan.
Langkah awal yang paling dinantikan dan menjadi prioritas utama dalam proses perdamaian ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara total.
Sementara negosiasi lanjutan akan membahas isu yang lebih rumit, yakni nuklir Teheran.
Berdasarkan rincian ketentuan yang dirilis oleh pejabat Washington, Teheran berkomitmen untuk mengurangi stok uranium yang telah diperkaya.
Proses pengurangan tersebut kemungkinan besar akan dilakukan melalui metode pencampuran langsung di lokasi di bawah pengawasan ketat dari Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA.
Langkah ini disebut akan membuka jalan kucuran dana bantuan ekonomi untuk Republik Islam tersebut.