Trump dan Netanyahu Pecah Kongsi, Israel Jadi " Sasaran Empuk" Iran Jika Ngotot Lanjutkan Perang di Lebanon?
- kolase siap.viva/AI
Siap –Hubungan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dilaporkan memanas dannterancam retak akibat kesepakatan damai AS-Iran.
Saking kesalnya, Trump bahkan melontarkan kalimat yang cukup menohok terhadap sekutu AS tersebut.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Presiden AS Donald Trump menyentil perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu usai mengumumkan kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Melansir Al Jazeera pada Senin 15 Juni 2026, Trump menyebut Netanyahu sebagai sosok yang rumit untuk diajak kerja sama.
Menurut Trump, Netanyahu seharusnya berterima kasih pada Amerika.
Pernyataannya itu disampaikan pada The New York Times saat Israel kembali membobardir Beirut Lebanon dan hampir merusak kesepakatan dengan Iran.
Trump menegaskan, jika Republik Islam itu benar-benar memiliki senjata nuklir, maka Israel mungkin hanya bertahan kurang dari 2 jam apabila Teheran menyerang.
"Dia (Benjamin Netanyahu) orang yang sangat sulit. Dan jujur saja, dia seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena telah melakukan (kesepakatan damai) ini. Karena jika Iran memiliki senjata nuklir maka Israel tidak akan bertahan selama 2 jam," ujarnya.
Meski kesepakatan kini telah dicapai, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat kembali melancarkan serangan terhadap Teheran jika kedua pihak gagal menyelesaikan kesepakatan final terkait program nuklir.
Trump menilai, serangan rudal dan bom yang dilakukan Amerika menjadi faktor penting yang mendorong Republik Islam menyetujui kesepakatan tersebut.
Ia meyakini Teheran tidak ingin menghadapi gelombang serangan berikutnya dan lebih memilih menempuh jalur kesepakatan.
Trump sesumbar, tekanan militer Amerika telah memberikan pengaruh besar dalam proses negosiasi.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga melontarkan kritik keras kepada Israel setelah pasukan pertahanan Israel atau IDF menyerang target Hizbullah di Lebanon pada Minggu, 14 Juni 2026.
Menurut Trump, serangan tersebut memicu kemarahan Republik Islam dan mengganggu kesepakatan yang sedang diupayakan Washington dengan Teheran.
Trump juga menilai Netanyahu tidak memiliki penilaian yang tepat dalam situasi tersebut. Ia juga menegaskan bahwa IDF seharusnya tidak melakukan serangan lanjutan di wilayah manapun di Lebanon agar proses menuju kesepakatan damai tetap berjalan.