Bukan Sekadar Kejar Target Panen, Saatnya Paradigma Pertanian Indonesia Bergeser, Dua Sisi Mata Uang Tak Terpisahkan?

Anom Wibisono Ketua Umum Governansi Nusantara Emas (GNE) | Peneliti & Pemerhati Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Hidup.
Sumber :
  • Istimewa

"Produktivitas yang berkelanjutan tidak lahir semata-mata dari penambahan unsur hara secara instan, melainkan dari kemampuan tanah untuk mempertahankan fungsi biologis, fisik, dan kimianya secara seimbang," katanya.

img_title Strategi Trump Tekan Iran Terancam Bumerang, Rusia dan China Punya Sikap Berbeda

"Tanah yang miskin bahan organik pada akhirnya akan kehilangan kemampuan menyimpan air, menahan nutrisi, serta mendukung kehidupan mikroba yang berperan dalam penyediaan unsur hara bagi tanaman," sambungnya.

Oleh karena itu, kata Anom, paradigma pembangunan pertanian perlu bergeser dari sekadar "memberi makan tanaman" menjadi "menyehatkan tanah agar tanah mampu memberi makan tanaman secara berkelanjutan."

img_title Makin Ngeri! Usai Didukung China, Kini Rusia Berdiri Bersama Iran di Tengah Perang dan Sanksi!

Dalam kerangka ini, pupuk organik bukan sekadar pelengkap pupuk kimia, melainkan instrumen strategis untuk membangun kembali kesuburan tanah dan memperkuat ketahanan sistem produksi pangan nasional.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular pertanian, di mana residu tanaman, limbah peternakan, biomassa pertanian, dan produk samping agroindustri dapat dikembalikan ke lahan sebagai sumber bahan organik dan nutrisi.

img_title AS Gencarkan Tekanan, Ada Pesan yang Mengungkap Cara Iran Bertahan dari Gempuran

Dengan demikian, terjadi siklus nutrisi yang lebih efisien, mengurangi ketergantungan pada input eksternal, sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan.

Padahal, ketahanan pangan bukan hanya soal tersedia atau tidaknya pangan hari ini. Ketahanan pangan adalah kemampuan suatu bangsa untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki sumber daya yang cukup untuk memproduksi pangan secara berkelanjutan.

"Dalam konteks ini, pertanian ramah lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis nasional," ungkapnya.

Filosofi pertanian yang berkelanjutan sesungguhnya sederhana: manusia tidak sedang menaklukkan alam, melainkan bekerja sama dengannya.

Tanah bukan sekadar media tanam, melainkan ekosistem hidup yang dihuni miliaran mikroorganisme.

Air bukan sekadar sarana irigasi, melainkan unsur kehidupan yang harus dijaga kualitas dan ketersediaannya.

Begitu pula limbah pertanian dan agroindustri yang semestinya tidak dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dikembalikan ke dalam siklus nutrisi.

Penerapan Ekonomi Sirkular Berbasis Vinase di Sektor Agroindustri

Lebih lanjut Anom Menuturkan, konsep ekonomi sirkular dalam pertanian menawarkan jalan keluar yang rasional. Residu tanaman, limbah organik, pupuk hayati, serta pemanfaatan produk samping agroindustri dapat diolah kembali menjadi sumber nutrisi bagi tanah.

Halaman Selanjutnya
img_title