GREAT Institute Apresiasi Kenaikan BBM Nonsubsidi, Ingatkan Risiko Daya Beli dan Subsidi Pertalite

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira
Sumber :
  • Istimewa

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, mengatakan bahwa keputusan tersebut perlu dipahami sebagai pilihan kebijakan yang tidak mudah, tetapi semakin sulit dihindari setelah harga minyak bertahan jauh di atas asumsi APBN dan rupiah berada dalam tekanan.

img_title Ketegangan Meningkat, Unggahan Trump Bikin Dunia Bertanya-tanya

"Kami memandang keputusan ini sebagai koreksi yang diperlukan. Menahan harga Pertamax selama lebih dari tiga bulan di tengah ICP Mei yang berada di US$106,56 per barel, jauh melampaui asumsi APBN sebesar US$70 per barel, serta rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS bukanlah kebijakan yang berkelanjutan. Biayanya berisiko berpindah ke neraca Pertamina, menekan arus kas badan usaha, atau pada akhirnya menciptakan tekanan tambahan terhadap postur fiskal,” ujar Adrian.

GREAT Institute mencatat bahwa bahkan setelah kenaikan, harga jual Pertamax masih berada di bawah estimasi harga keekonomian yang berkisar Rp17.000-Rp18.000 per Mei 2026.

img_title Tak Berhenti di Medan Perang, Iran Kini Punya Senjata Diplomatik untuk Hadapi AS

Di sisi lain, keputusan mempertahankan harga Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter juga patut diapresiasi sebagai bantalan bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan pengguna transportasi yang lebih rentan terhadap kenaikan harga energi.

Namun, Adrian mengingatkan bahwa pemerintah perlu memastikan kebijakan ini tidak berhenti sebagai penyesuaian harga semata, melainkan diikuti dengan pengelolaan risiko terhadap inflasi, daya beli masyarakat, serta potensi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite.

img_title Ngamuk! Donald Trump Ancam Gempur Iran Habis-habisan Usai Aksi Saling Serang di Selat Hormuz, Perang Skala Besar?

Kenaikan harga yang besar dan mendadak dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi konsumen, terutama kelompok pekerja perkotaan, pengguna sepeda motor, dan pelaku usaha kecil yang selama ini menggunakan Pertamax untuk aktivitas harian.

“Benar bahwa Pertamax bukan BBM subsidi dan tidak menjadi bahan bakar utama angkutan umum. Karena itu, dampak langsung terhadap inflasi kemungkinan relatif terbatas. Namun, pemerintah tidak boleh berhenti melihat dampak langsungnya saja. Harga energi punya efek ekspektasi. Ketika masyarakat melihat harga BBM naik tajam, persepsi bahwa biaya hidup akan semakin mahal bisa ikut terbentuk,” kata Adrian.

Menurut GREAT Institute, ada tiga risiko utama yang perlu segera diantisipasi. Pertama, risiko tekanan daya beli pada kelompok menengah dan menengah-rentan pengguna kendaraan pribadi yang tidak seluruhnya merupakan kelompok kaya.

Halaman Selanjutnya
img_title