Trump Batalkan Bombardir Teheran di Menit Akhir, Israel Syok Berat, Iran: Tak Ada Pilihan Untuk AS Selain Menyerah?
- Istimewa
Siap –Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba membatalkan rencana pengeboman besar-besaran terhadap Iran pada Kamis malam.
Keputusan dadakan dari pemimpin Amerika tersebut langsung mengejutkan sekutu terdekat mereka, rezim Zionis Israel.
Trump mengeklaim bahwa serangan udara besar milik Amerika dibatalkan karena proses negosiasi dengan pihak Iran kembali dilanjutkan.
Padahal, hanya beberapa jam sebelum pengumuman tersebut dibuat, ia sempat mengancam akan menyerang Iran dengan mengerahkan kekuatan yang sangat keras.
“Serangan dan pengeboman yang dijadwalkan telah dibatalkan karena negosiasi yang dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui," tulis Trump melalui akun pribadinya di Truth Social.
Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa diskusi mendalam dan poin-poin akhir kesepakatan telah disetujui oleh seluruh pihak yang terlibat.
Pihak-pihak tersebut mencakup AS, Israel, Arab Saudi, dan beberapa negara regional lainnya di kawasan Timur Tengah.
Langkah mendadak ini langsung memicu reaksi keras di Tel Aviv.
Para pejabat rezim Zionis Israel secara terbuka mengaku sangat terkejut dengan pengumuman sepihak dari Trump tersebut.
Saat ini, pihak berwenang Israel tengah menunggu klarifikasi langsung dari Teheran sebelum menilai keakuratan dari klaim damai sang Presiden AS.
“Kami terkejut dengan pengumuman Trump, kami perlu melihat apa yang dipublikasikan Iran untuk menentukan apakah itu akurat,” kata para pejabat Israel kepada i24NEWS, Jumat (12/6/2026).
"Tidak ada teks untuk nota kesepahaman pendahuluan dengan Amerika Serikat yang telah disetujui," kata sumber internal tersebut.
Bahkan, tepat satu jam sebelum unggahan Trump muncul ke publik, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran sudah mengeluarkan peringatan keras agar Washington tidak melakukan tindakan militer lebih lanjut di kawasan mereka.
Sementara itu disisi lain, Juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, juga menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat saat ini justru berada di pihak yang harus mengalah dalam konflik geopolitik yang sedang berlangsung tersebut.
"Ini tidak diragukan lagi bahwa Amerika lah yang harus menyerah dalam pertempuran ini," kata Rezaei dengan nada tegas.