Menag Soroti Tantangan Pendidikan Islam di Era Rasionalisme

Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memberikan sambutan di peresmian IAI Al Irsyad, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai bahwa perguruan tinggi Islam saat ini sedang berada pada fase penting dalam menghadapi perubahan cara pandang masyarakat terhadap agama di era modern.

img_title Ditinggal di Depan Barikade DPR, Muslimah GPI Kecam Sikap Pimpinan AMPB

Menurutnya, tantangan utama pendidikan Islam bukan hanya terletak pada penguasaan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga pada kemampuan menjaga keseimbangan antara aspek rasionalitas dan spiritualitas dalam proses pembelajaran.

Menag menegaskan bahwa Islam tidak dapat dipahami secara parsial hanya dari sisi logika dan rasionalitas, melainkan harus dipadukan dengan dimensi spiritual yang menjadi inti dari ajaran agama.

img_title Klaim Trump Terbantahkan, Ini Isi Pembicaraan Pertemuan 'Sakral' Presiden Iran dengan Mojtaba Khamenei

Keseimbangan antara akal dan hati dianggap sebagai fondasi utama dalam membentuk pemahaman Islam yang utuh dan tidak menyimpang dari nilai dasarnya.

“Agama Islam itu kan bukan hanya rasional, tapi ada juga spiritualnya. Kita ada perkawinan antara akal dengan hati. Ada iqra, ada bismirabbik. Jangan hanya iqra tanpa bismirabbik,” ujar Menag saat menghadiri peresmian Institut Agama Islam (IAI) Al Irsyad di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Kamis (11/6/2026).

img_title Ultimatum Keras Iran ke Amerika Serikat: Balasan Kepada "Setan Besar" Lebih Menghancurkan!

Dalam pandangannya, jika terjadi ketidakseimbangan antara aspek intelektual dan spiritual, maka hal tersebut berpotensi melahirkan pemahaman agama yang kering nilai dan cenderung kaku.

Kondisi ini, menurutnya, dapat membuka ruang munculnya sikap ekstrem dalam memahami ajaran agama.

Karena itu, Menag menekankan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai ketuhanan dalam sistem pendidikan Islam.

Integrasi tersebut dianggap penting agar lulusan perguruan tinggi Islam tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kedalaman moral dan spiritual yang kuat.

Lebih jauh, Menag juga menyampaikan bahwa semakin dalam seseorang memahami ajaran Islam secara komprehensif, maka semakin tinggi pula tingkat toleransi yang dimilikinya dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebaliknya, pemahaman yang sempit dan tidak menyeluruh justru berpotensi melahirkan sikap eksklusif dan tertutup terhadap perbedaan.

“Yang biasa orang radikal itu kalau memahami Islam itu seperti kacamata kuda. Nah, Al Irsyad ini kita usahakan menebarkan Islam damai, Islam sejuk, Islam toleransi,” kata Menag.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa perguruan tinggi Islam diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai lembaga transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.

Halaman Selanjutnya
img_title