Ngeri, Ini Ancaman Keras Iran ke AS: Tinggalkan Wilayah Kami Jika Anda Ingin Aman
- Istimewa
Siap –Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin membara pasca-aksi saling balas serangan udara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan respons tegas setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap sejumlah wilayah yang diklaim berkaitan dengan pertahanan Iran.
Langkah Washington yang membombardir beberapa titik strategis dinilai Teheran justru menyulut api konfrontasi yang lebih luas.
Respons diplomatik yang dibarengi ancaman militer ini mempertegas posisi Iran yang enggan tunduk pada tekanan kekuatan asing.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui akun media sosial X pada Rabu (10/6/2026).
Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan mengabaikan tindakan apa pun yang dianggap sebagai ancaman terhadap negaranya.
Ketegangan ini berpotensi mengganggu stabilitas keamanan jalur maritim internasional.
Dikutip dari The Times of Israel, Araghchi menyebut bahwa keputusan AS melakukan serangan justru menjadi ujian terhadap sikap Iran dalam menghadapi tekanan.
Konflik terbuka ini terus dipantau secara ketat oleh komunitas global karena melibatkan Selat Hormuz sebagai urat nadi distribusi minyak dunia.
“Angkatan bersenjata kami tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa respons,” tulis Araghchi dalam pernyataannya.
Lini pertahanan udara Iran kini dilaporkan berada dalam status siaga tertinggi guna mengantisipasi pergerakan pesawat tempur maupun drone pengintai milik lawan.
Abbas Araghchi juga secara terbuka mendesak sekutu Barat tersebut untuk segera menarik mundur seluruh aset militernya demi meredakan gejolak di kawasan tersebut.
Ia juga meminta Amerika Serikat mempertimbangkan kembali keberadaannya di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, keamanan akan lebih terjamin apabila pihak luar tidak terlibat langsung dalam konflik regional.
"Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman,” ujar Araghchi.
Pernyataan tersebut muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) sebelumnya mengumumkan operasi militer yang disebut sebagai tindakan pertahanan terhadap sejumlah target di Iran.
Gempuran presisi tersebut diklaim menyasar sistem radar dan pangkalan pertahanan udara milik Korps Garda Revolusi Iran.
Pihak AS menyatakan operasi tersebut dilakukan setelah adanya insiden yang melibatkan helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat Amerika di sekitar kawasan Selat Hormuz.