Iran Makin Ganas Serang Israel, 3 Kombinasi Rudal Teheran Jebol Perisai Langit Zionis
- Istimewa
Siap – Konflik di kawasan Timur Tengah belum juga mereda. Terbaru, Iran dan Israel kembali terlibat saling serang menggunakan rudal berkekuatan besar.
Agresi militer yang dilancarkan dua negara tersebut membuat proses negosiasi antar Teheran dan Washington kian buntu.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Iran dan Israel kembali terlibat bentrok terbuka. Aksi saling balas mereka mengejutkan karena dulu Republik Islam tersebut selalu memakai cara tidak langsung dalam melawan zionis Israel.
Teheran biasanya mengandalkan bantuan kelompok milisi seperti Hizbullah dari Lebanon atau Houthi dari Yaman.
Tapi sekarang, taktik itu sudah tidak dipakai lagi. Teheran justru mulai berani menembakkan rudal mereka langsung ke wilayah Tel Aviv atau sejumlah kota besar lainnya di Israel.
Lantas apa yang membuat Republik Islam Iran sekarang jadi seberani itu?
Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase kritis pada Minggu, 7 Juni 2026.
Ketegangan bermula saat militer Israel meluncurkan serangan udara ke Beirut, Lebanon.
Wilayah itu merupakan basis utama dari kelompok Hizbullah.
Menanggapi serangan tersebut, di hari yang sama Teheran langsung merespons dengan menembakkan gelombang rudal balistik ke wilayah Israel.
Tidak tinggal diam, Israel kemudian membalas.
Mereka menggempur pabrik petrokimia penting, serta sistem pertahanan udara di dalam wilayah Teheran, Iran.
Saling balas tembakan secara frontal ini sempat berhenti pada hari berikutnya. Kemudian pada Senin, 8 Juni 2026, Pemerintah Republik Islam menyatakan telah menghentikan serangan rudal mereka.
Meski demikian, Teheran memberikan peringatan keras. Militer mereka akan kembali menyerang dengan skala yang lebih luas jika Israel tidak menghentikan operasi militernya di wilayah Lebanon Selatan.
Berdasarkan laporan Reuters, penghentian saling serang ini terjadi setelah adanya intervensi politik dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Melalui akun media sosialnya, Trump mendesak agar Tel Aviv dan Teheran segera menghentikan aksi tembak-menembak.
Perubahan taktik ini tergolong sangat drastis jika kita melihat rekam jejak militer Teheren.
Menurut laporan The Wall Street Journal, selama puluhan tahun para pemimpin tertinggi Iran selalu menerapkan prinsip kehati-hatian.