Perdamaian AS dan Iran Terancam Gagal, Hizbullah Tolak Genjatan Senjata dengan Israel, Netanyahu Makin Sesumbar?
- Masoud Shahrestani Tasnim News
Siap –Proses perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran nampaknya menemui ganjalan serius selain kebuntuan soal persyaratan antar keduanya.
Ganjalan terbesar selain alotnya proses Negosiasi, perundingan damai antara Amerika dengan Iran juga disebabkan oleh agresi militer yang dilakukan oleh Israel ke Lebanon.
Nah kekinian, dikabarkan bahwa adanya penolakan gencatan senjata oleh Hizbullah lantaran serangan Israel terus berlanjut di berbagai wilayah di Lebanon.
Disitat dari laporan Al Jazeera, serangan udara dan operasi militer Israel terus berlangsung meskipun pejabat Lebanon dan Israel sebelumnya telah menyepakati kerangka gencatan senjata baru dalam perundingan di Washington DC.
Pemimpin Hizbullah Nakm Qassem secara tegas menolak kesepakatan gencatan senjata yang disepakati Lebanon dan Israel di Amerika Serikat.
Karena menurutnya, kesepakatan tersebut tidak memberikan jaminan penghentian perang secara menyeluruh.
Ia menegaskan bahwa Hizbullah hanya akan menerima gencatan senjata penuh yang disertai penarikan seluruh pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Tak hanya itu, Ia juga memperingatkan bahwa wilayah Israel bagian utara akan tetap menjadi sasaran serangan selama operasi militer Israel masih berlangsung di Lebanon.
Sontak pernyataan itu menimbulkan keraguan besar terhadap keberlangsungan kesepakatan damai yang baru saja diumumkan.
Netanyahu Makin Sesumbar disaat Trump mulai melemah
Setelah sebelumnya nya Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak terlalu menggebu gebu memberikan pernyataan soal perang Iran lantaran lebih memilih jalur negosiasi, kini malah PM Israel Benjamin Netanyahu yang mulai sesumbar.
Ia menyebut bahwa Republik Islam Iran berada dalam kondisi yang semakin rapuh dan berpotensi runtuh pada masa mendatang.
Pernyataan itu disampaikan ketika ketegangan antara Israel dan Republik Islam masih menjadi salah satu isu geopolitik terbesar di Timur Tengah.
Meski mengaku tidak dapat memastikan kapan perubahan rezim akan terjadi, Netanyahu menilai tanda-tanda keretakan internal di Iran kini semakin terlihat.
"Anda tidak bisa memprediksi kapan rezim seperti itu akan tumbang. Anda tidak memprediksinya dalam sejumlah kasus: Tidak di Rumania, dan tidak dalam runtuhnya Tembok Berlin, dan tidak ada yang memprediksinya, tetapi itu terjadi. Mengapa? Karena retakan-retakan tersebut terus merambat di bawahnya," kata Netanyahu dalam wawancara yang dikutip CNBC, Kamis, 4 Juni 2026.