Jenderal Iran Ungkap 'Kartu Rahasia', AS dan NATO Diperingatkan Siap Hadapi Perang
- Istimewa
Siap – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Komando Pusat Khatam Al Anbiya Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara anggota NATO.
Peringatan itu muncul ketika konflik di Lebanon terus memanas dan proses komunikasi tidak langsung antara Teheran dan Washington dilaporkan mengalami hambatan serius.
Wakil Inspektur Markas Besar Khatam Al Anbiya, Brigadir Jenderal Mohammad Jafar Asadi, menegaskan bahwa Republik Islam hingga saat ini belum mengerahkan seluruh kemampuan militernya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara yang dipublikasikan kantor berita Republik Islam, Mehr News.
"Kami belum mengungkapkan kartu inti kami," kata Asadi dikutip Mehr News, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurutnya, banyak pihak salah menilai kemampuan pertahanan Republik Islam.
Ia menegaskan bahwa Teheran masih memiliki sejumlah opsi strategis yang belum digunakan dalam menghadapi tekanan eksternal.
"Kami telah berulang kali menekankan bahwa kami belum mengungkapkan semua kartu andalan kami. Kami masih memiliki banyak kemampuan yang akan digunakan jika perlu," tuturnya dikutip Mehr News.
"Kami telah berkali-kali mengatakan bahwa kami belum mengungkapkan semua kartu inti kami dan masih banyak kartu yang akan kami gunakan jika diperlukan," sambung dia.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal paling keras dari petinggi militer Republik Islam sejak meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir.
Republik Islam Tegaskan Tidak akan Menyerah
Kota rudal bawah tanah Iran siap beroperasi serang Israel
- Istimewa
Dalam wawancara yang sama, Asadi menegaskan bahwa tekanan ekonomi, politik, maupun militer tidak akan membuat Republik Islam menyerah.
Ia menilai tujuan utama Washington adalah memaksa Teheran menerima seluruh tuntutan Amerika Serikat.
Namun menurutnya, hal tersebut tidak akan pernah terjadi.
"Amerika hanya menginginkan kami menyerah sepenuhnya dan bangsa Republik Islam tidak akan pernah menyerah," tegas Asadi.
Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap yang selama ini disampaikan para pemimpin Republik Islam.
Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Mojtaba Khamenei, dalam berbagai kesempatan berulang kali menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan asing.
Sejak Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir pada 2018, hubungan kedua negara terus berada dalam kondisi tegang.